Teori Pendidikan: Pengertian, Tujuan, Jenis, dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Teori pendidikan merupakan landasan penting dalam memahami bagaimana manusia belajar, berkembang, dan memperoleh pengetahuan. Dalam dunia pendidikan, teori tidak hanya digunakan sebagai bahan kajian akademis, tetapi juga menjadi pedoman bagi guru, orang tua, dan tenaga pendidik dalam merancang proses pembelajaran yang efektif.

Memahami teori pendidikan dapat membantu pendidik memilih metode mengajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Setiap siswa memiliki karakteristik, kemampuan, minat, dan latar belakang yang berbeda. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan perlu disesuaikan agar proses belajar dapat berlangsung secara optimal.

Ada berbagai teori pendidikan yang berkembang dari pemikiran para ahli, mulai dari behaviorisme, kognitivisme, konstruktivisme, humanisme, hingga teori sosiokultural. Masing-masing memiliki pandangan tersendiri tentang proses belajar dan cara terbaik untuk membantu peserta didik mengembangkan potensinya.

Lantas, apa yang dimaksud dengan teori pendidikan? Apa saja jenis-jenisnya, siapa tokoh yang mengembangkannya, dan bagaimana penerapannya dalam kegiatan belajar mengajar? Simak penjelasan lengkap berikut ini.

Pengertian Teori Pendidikan

Teori pendidikan adalah kumpulan gagasan, konsep, prinsip, dan penjelasan yang digunakan untuk memahami proses pendidikan serta memberikan landasan bagi praktik pembelajaran.

Teori pendidikan membahas berbagai hal, seperti bagaimana seseorang memperoleh pengetahuan, bagaimana lingkungan memengaruhi perkembangan peserta didik, bagaimana motivasi terbentuk, dan bagaimana pendidik dapat menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.

Dalam praktiknya, teori pendidikan membantu guru menentukan tujuan pembelajaran, memilih strategi mengajar, menyusun kegiatan belajar, dan mengevaluasi hasil pembelajaran.

Teori pendidikan juga tidak hanya berkaitan dengan kegiatan di sekolah. Proses pendidikan berlangsung dalam keluarga, masyarakat, lingkungan kerja, dan berbagai situasi kehidupan lainnya.

Dengan memahami teori pendidikan, pendidik diharapkan dapat mengambil keputusan yang lebih tepat berdasarkan kebutuhan peserta didik dan tujuan pembelajaran.

Pengertian Teori Pendidikan Menurut Para Ahli

Berbagai ahli pendidikan dan psikologi memberikan sumbangan pemikiran yang memengaruhi perkembangan teori pendidikan modern. Berikut beberapa tokoh penting beserta gagasan yang relevan dengan dunia pendidikan.

1. John Dewey

John Dewey merupakan filsuf dan tokoh pendidikan yang menekankan pentingnya pengalaman dalam proses belajar. Menurut pandangannya, pendidikan berkaitan erat dengan kehidupan sosial dan pengalaman nyata peserta didik.

Dewey mendukung pembelajaran yang melibatkan aktivitas, penyelidikan, pemecahan masalah, dan refleksi. Peserta didik tidak seharusnya hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga perlu terlibat aktif dalam memahami persoalan.

Contohnya, guru dapat mengajak siswa melakukan pengamatan lingkungan, mendiskusikan masalah kebersihan, dan merancang solusi berdasarkan hasil pengamatan.

2. Jean Piaget

Jean Piaget dikenal melalui teori perkembangan kognitif. Ia menjelaskan bahwa cara anak memahami dunia berkembang melalui tahapan perkembangan intelektual.

Menurut Piaget, anak membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungan. Proses tersebut melibatkan asimilasi, yaitu memasukkan pengalaman baru ke dalam pemahaman yang sudah ada, serta akomodasi, yaitu menyesuaikan pemahaman ketika menghadapi informasi baru.

Dalam pembelajaran, gagasan Piaget mendorong guru untuk memperhatikan kesiapan perkembangan peserta didik dan menyediakan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan berpikir mereka.

3. Lev Vygotsky

Lev Vygotsky menekankan peran interaksi sosial dan budaya dalam perkembangan kognitif. Menurut pendekatan sosiokulturalnya, proses belajar dipengaruhi oleh bahasa, lingkungan sosial, dan bantuan dari orang lain.

Salah satu konsep yang terkenal adalah Zone of Proximal Development (ZPD), yaitu rentang kemampuan yang dapat dicapai peserta didik dengan bantuan dibandingkan dengan kemampuan yang dapat dilakukan secara mandiri.

Contohnya, siswa yang belum mampu menyelesaikan soal matematika sendiri dapat terbantu melalui petunjuk guru, contoh pengerjaan, atau diskusi dengan teman.

4. B. F. Skinner

B. F. Skinner merupakan tokoh behaviorisme yang mengembangkan konsep pengondisian operan. Pendekatan ini menjelaskan bagaimana konsekuensi dari suatu perilaku dapat memengaruhi kemungkinan perilaku tersebut muncul kembali.

Dalam pendidikan, guru dapat menggunakan penguatan positif untuk mendorong perilaku belajar yang diharapkan, misalnya memberikan apresiasi ketika siswa menunjukkan usaha, ketekunan, atau kerja sama yang baik.

Penerapannya perlu dilakukan secara bijaksana agar siswa tidak hanya belajar demi hadiah, tetapi juga mengembangkan motivasi dan tanggung jawab pribadi.

5. Abraham Maslow

Abraham Maslow dikenal melalui teori hierarki kebutuhan manusia. Gagasannya menjelaskan bahwa kebutuhan manusia mencakup berbagai aspek, mulai dari kebutuhan fisiologis dan rasa aman hingga kebutuhan sosial, penghargaan, serta aktualisasi diri.

Dalam konteks pendidikan, kebutuhan dasar dan perasaan aman dapat memengaruhi kesiapan siswa untuk belajar. Siswa yang merasa terancam, dikucilkan, atau tidak memiliki akses terhadap kebutuhan dasar mungkin mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi.

Karena itu, lingkungan belajar yang aman, mendukung, dan menghargai peserta didik menjadi salah satu unsur penting dalam proses pendidikan.

Perlu dipahami bahwa pemikiran para tokoh tersebut berasal dari tradisi keilmuan yang berbeda. Tidak semua gagasan mereka merupakan teori pendidikan dalam pengertian yang sama, tetapi semuanya memberikan kontribusi penting bagi pemahaman tentang pembelajaran dan perkembangan manusia.

Jenis-Jenis Teori Pendidikan

Terdapat beberapa teori belajar dan pendekatan pendidikan yang banyak digunakan sebagai landasan dalam kegiatan pembelajaran. Berikut penjelasannya.

1. Teori Behaviorisme

Behaviorisme memandang belajar sebagai perubahan perilaku yang dapat diamati dan dipengaruhi oleh lingkungan serta konsekuensi suatu tindakan.

Tokoh yang sering dikaitkan dengan perkembangan behaviorisme antara lain B. F. Skinner, Ivan Pavlov, dan John B. Watson.

Dalam pembelajaran, teori behaviorisme dapat diterapkan melalui latihan berulang, umpan balik langsung, pembiasaan, dan penguatan perilaku positif.

Contoh penerapan:

  • Guru memberikan umpan balik setelah siswa menjawab pertanyaan.
  • Siswa berlatih membaca secara teratur untuk meningkatkan kelancaran.
  • Guru membantu siswa membangun kebiasaan disiplin melalui aturan yang konsisten.

Kelebihan pendekatan ini adalah membantu membangun keterampilan dasar dan kebiasaan tertentu. Namun, jika digunakan secara berlebihan, pembelajaran dapat terlalu berfokus pada jawaban benar, hadiah, atau hukuman sehingga kurang memberi ruang bagi kreativitas dan pemahaman mendalam.

2. Teori Kognitivisme

Kognitivisme menekankan proses mental yang terlibat dalam belajar, seperti perhatian, ingatan, pemahaman, penalaran, dan pemecahan masalah.

Dalam pandangan ini, belajar bukan sekadar perubahan perilaku yang terlihat, tetapi juga perubahan dalam cara seseorang memproses dan mengorganisasi informasi.

Guru dapat menerapkan pendekatan kognitif dengan membantu siswa menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya, mengelompokkan informasi, serta menyusun konsep secara terstruktur.

Contoh penerapan:

  • Membuat peta konsep untuk menjelaskan hubungan antartopik.
  • Mengajak siswa menjelaskan alasan di balik suatu jawaban.
  • Menggunakan latihan mengingat kembali materi tanpa hanya membaca ulang catatan.
  • Menyusun materi dari konsep sederhana menuju konsep yang lebih kompleks.

Pendekatan ini membantu peserta didik membangun pemahaman yang lebih mendalam dan mengembangkan strategi belajar yang efektif.

3. Teori Konstruktivisme

Konstruktivisme berpandangan bahwa peserta didik membangun pemahamannya melalui pengalaman, interaksi, dan penafsiran terhadap informasi baru.

Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya menerima penjelasan guru, tetapi juga terlibat aktif dalam mencari informasi, menguji gagasan, berdiskusi, dan memecahkan masalah.

Piaget dan Vygotsky sering dibahas dalam kajian konstruktivisme, meskipun pemikiran keduanya memiliki perbedaan dan tidak dapat disamakan sepenuhnya.

Contoh penerapan:

  • Siswa melakukan eksperimen sederhana untuk memahami konsep sains.
  • Kelompok belajar menyelidiki masalah lingkungan di sekitar sekolah.
  • Guru memberikan pertanyaan pemantik agar siswa menyusun kesimpulan berdasarkan bukti.
  • Siswa membuat proyek yang menghubungkan teori dengan kehidupan nyata.

Konstruktivisme dapat mendorong kemandirian, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Agar efektif, guru tetap perlu memberikan arahan, sumber belajar yang sesuai, dan dukungan ketika siswa mengalami kesulitan.

4. Teori Humanisme

Teori humanisme menekankan perkembangan manusia secara menyeluruh, termasuk aspek intelektual, emosional, sosial, dan pribadi.

Pendekatan ini memberi perhatian pada kebutuhan, minat, pilihan, serta potensi peserta didik. Tokoh yang sering dibahas dalam pendekatan humanistik antara lain Abraham Maslow dan Carl Rogers.

Dalam pendidikan, guru berperan menciptakan suasana belajar yang menghargai siswa sebagai individu dan membantu mereka mengembangkan kemampuan secara bertahap.

Contoh penerapan:

  • Memberi kesempatan kepada siswa untuk memilih topik proyek sesuai minat.
  • Membangun suasana kelas yang aman untuk bertanya.
  • Memberikan umpan balik yang menghargai usaha dan proses belajar.
  • Membantu siswa melakukan refleksi terhadap kekuatan dan kebutuhan belajarnya.

Pendekatan humanistik mendukung perkembangan kepercayaan diri dan tanggung jawab. Namun, kebebasan dalam pembelajaran tetap perlu disertai tujuan yang jelas dan pendampingan yang memadai.

5. Teori Sosiokultural

Teori sosiokultural menekankan bahwa belajar berlangsung melalui interaksi dengan orang lain serta dipengaruhi oleh bahasa, budaya, dan lingkungan sosial.

Pemikiran Lev Vygotsky menjadi salah satu landasan penting pendekatan ini. Peserta didik dapat mengembangkan kemampuan melalui diskusi, kolaborasi, dan bimbingan dari orang yang lebih berpengalaman.

Contoh penerapan:

  • Diskusi kelompok untuk membandingkan berbagai pendapat.
  • Kegiatan belajar bersama teman sebaya.
  • Guru memberikan bantuan bertahap ketika siswa mempelajari keterampilan baru.
  • Menggunakan contoh yang dekat dengan budaya dan kehidupan masyarakat setempat.

Pendekatan ini membantu siswa mengembangkan kemampuan komunikasi, kerja sama, dan pemahaman yang terbentuk melalui interaksi sosial.

6. Teori Belajar Sosial

Teori belajar sosial yang dikembangkan Albert Bandura menjelaskan bahwa seseorang dapat belajar dengan mengamati perilaku orang lain dan konsekuensi yang menyertainya.

Proses belajar tidak selalu memerlukan pengalaman langsung. Seseorang juga dapat memperoleh pengetahuan atau keterampilan dengan memperhatikan model perilaku, mengingatnya, mencoba menirunya, dan memperoleh motivasi untuk melakukannya.

Contoh penerapan:

  • Guru memperagakan cara melakukan eksperimen dengan aman.
  • Siswa mengamati contoh presentasi yang baik sebelum membuat presentasi sendiri.
  • Peserta didik belajar bekerja sama dengan melihat perilaku teman yang menunjukkan komunikasi positif.
  • Guru memberikan teladan dalam hal kedisiplinan dan kejujuran.

Teori ini menegaskan pentingnya keteladanan di lingkungan pendidikan, baik dari guru, orang tua, maupun teman sebaya.

Tujuan Mempelajari Teori Pendidikan

Mempelajari teori pendidikan memiliki beberapa tujuan penting, terutama bagi calon guru, tenaga pendidik, mahasiswa, dan orang tua.

1. Memahami Cara Peserta Didik Belajar

Teori pendidikan membantu pendidik memahami bahwa siswa dapat belajar melalui berbagai proses, seperti latihan, penalaran, pengalaman, pengamatan, dan interaksi sosial.

2. Memilih Metode Pembelajaran yang Sesuai

Pemahaman teori membantu guru memilih metode yang cocok dengan tujuan pembelajaran, karakteristik materi, dan kebutuhan siswa.

3. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis

Berbagai pendekatan pendidikan mendorong siswa untuk menganalisis informasi, mengajukan pertanyaan, menilai bukti, dan menyelesaikan masalah.

4. Menciptakan Lingkungan Belajar yang Mendukung

Teori pendidikan membantu pendidik mempertimbangkan faktor motivasi, kebutuhan emosional, interaksi sosial, dan kondisi lingkungan yang dapat memengaruhi proses belajar.

5. Mengevaluasi Proses Pembelajaran

Dengan memahami landasan teori, guru dapat menilai apakah strategi yang digunakan telah membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran dan menentukan perbaikan yang diperlukan.

Perbedaan Teori Pendidikan dan Teori Belajar

Istilah teori pendidikan dan teori belajar sering digunakan secara berdekatan, tetapi keduanya memiliki cakupan yang berbeda.

AspekTeori pendidikanTeori belajar
FokusTujuan, nilai, proses, dan sistem pendidikanCara pengetahuan atau perilaku dipelajari
CakupanLebih luas, termasuk kurikulum dan peran lembaga pendidikanLebih khusus pada proses belajar
Pertanyaan utamaPendidikan seperti apa yang perlu dikembangkan?Bagaimana seseorang belajar?
Contoh penerapanMenentukan tujuan pendidikan dan rancangan kurikulumMemilih strategi latihan, diskusi, atau pemecahan masalah

Keduanya saling berkaitan. Teori belajar dapat menjadi salah satu dasar untuk merancang pembelajaran, sedangkan teori pendidikan memberikan kerangka yang lebih luas mengenai tujuan dan nilai yang ingin dicapai.

Penerapan Teori Pendidikan dalam Pembelajaran di Sekolah

Teori pendidikan akan lebih bermakna apabila diterapkan sesuai kebutuhan peserta didik dan tujuan pembelajaran. Berikut beberapa contoh penerapannya.

1. Pembelajaran Berbasis Masalah

Guru menyajikan masalah nyata yang relevan dengan materi. Siswa kemudian mengidentifikasi persoalan, mencari informasi, mendiskusikan alternatif solusi, dan menyampaikan hasil pemikirannya.

Metode ini dapat mendukung pembelajaran aktif dan pemecahan masalah.

2. Pembelajaran Kolaboratif

Siswa bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas bersama. Setiap anggota memiliki kesempatan menyampaikan pendapat, bertanya, dan membantu teman memahami materi.

Kegiatan ini dapat mendukung keterampilan komunikasi dan kerja sama.

3. Latihan dan Umpan Balik

Untuk keterampilan dasar, seperti membaca, berhitung, atau penggunaan bahasa, latihan yang terarah dan umpan balik dapat membantu siswa memperbaiki kesalahan.

Guru perlu memastikan bahwa latihan tidak hanya berulang, tetapi juga memberikan kesempatan untuk memahami alasan di balik jawaban.

4. Pembelajaran Berdiferensiasi

Peserta didik memiliki kebutuhan, kesiapan, dan minat yang berbeda. Guru dapat menyesuaikan dukungan, bahan belajar, atau bentuk tugas agar siswa memiliki kesempatan belajar yang sesuai.

Penyesuaian tersebut sebaiknya tetap mengacu pada tujuan pembelajaran dan tidak memberi label tetap pada kemampuan siswa.

5. Refleksi dan Penilaian Diri

Setelah pembelajaran, siswa dapat diminta menjelaskan hal yang telah dipahami, kesulitan yang dialami, dan strategi yang akan digunakan untuk memperbaiki hasil belajar.

Refleksi membantu siswa mengembangkan kesadaran terhadap proses belajarnya sendiri.

Faktor yang Memengaruhi Keberhasilan Penerapan Teori Pendidikan

Penerapan teori pendidikan tidak dapat dilakukan dengan satu cara yang sama untuk semua kondisi. Keberhasilannya dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut.

  • Karakteristik peserta didik: kemampuan awal, usia, minat, dan kebutuhan belajar.
  • Kompetensi guru: pemahaman materi, keterampilan mengajar, dan kemampuan mengelola kelas.
  • Lingkungan belajar: keamanan, kenyamanan, hubungan sosial, serta ketersediaan fasilitas.
  • Tujuan pembelajaran: pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang ingin dikembangkan.
  • Sumber belajar: buku, alat peraga, teknologi, dan lingkungan sekitar.
  • Evaluasi pembelajaran: informasi tentang kemajuan siswa dan kebutuhan perbaikan.

Guru sebaiknya tidak menggunakan satu teori secara kaku. Strategi yang efektif untuk melatih keterampilan dasar belum tentu menjadi strategi terbaik untuk diskusi filosofis atau proyek penelitian. Pemilihan pendekatan perlu mempertimbangkan konteks dan tujuan pembelajaran.

Kesimpulan

Teori pendidikan merupakan landasan penting untuk memahami proses belajar, perkembangan peserta didik, dan cara menciptakan pembelajaran yang efektif. Berbagai pendekatan, seperti behaviorisme, kognitivisme, konstruktivisme, humanisme, sosiokultural, dan belajar sosial, memberikan sudut pandang yang berbeda mengenai bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dan mengembangkan keterampilan.

Setiap teori memiliki kelebihan, keterbatasan, serta konteks penerapan masing-masing. Oleh karena itu, pendidik perlu memilih dan menggabungkan pendekatan secara bijaksana sesuai kebutuhan siswa, materi, dan tujuan pembelajaran.

Dengan memahami teori pendidikan, guru dan orang tua dapat mendukung proses belajar yang lebih terarah, bermakna, dan sesuai dengan perkembangan peserta didik. Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membantu manusia mengembangkan keterampilan, sikap, dan tanggung jawab dalam kehidupan.

PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH YANG BAIK DAN BENAR

PENULISAN KARYA ILMIAH YANG BAIK DAN BENAR  - assalamuaikum.. sobat teoripendidikan yang berbahagia,, pada postingan kali ini kami akan memberikan informasi yang mungkin bermanfaat bagi sobat semua dalam pembuatan laporan penelitian karya ilmiah,, 

PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH
(LAPORAN PENELITIAN)

oleh
Mukhlish

1. Pengertian Karya Ilmiah

Karya ilmiah adalah sebuah tulisan yang berisi suatu permasalahan yang diungkapkan dengan metode ilmiah (Soeparno, 1997:51); karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar (Arifin, 2003:1). Artinya, pengungkapan permasalahan dalam karya ilmiah itu harus berdasarkan fakta, bersifat objektif, tidak bersifat emosional dan personal, dan disusun secara sistematis dan logis. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia ragam baku dengan memperhatikan kaidah EYD dan Pembentukan Istilah.

2. Sikap Ilmiah

Orang yang berjiwa ilmiah adalah orang yang memiliki tujuh macam sikap ilmiah. Ketujuah macam sikap ilmiah itu adalah (1) sikap ingin tahu, (2) sikap kritis, (3) sikap terbuka, (4) sikap objektif, (5) sikap rela menghargai karya orang lain, (6) sikap berani mempertahankan kebenaran, dan (7) sikap menjangkau ke depan (Brotowidjoyo, 1985:33-34).

3. Jenis Karya Ilmiah

Berdasarkan tingkat akademisnya, karya ilmiah dapat dibedakan atas lima macam, yaitu (1) makalah, (2) laporan penelitian, (3) skripsi, (4) tesis, dan (5) disertasi.  Makalah adalah karya tulis yang memerlukan studi, baik secara langsung maupun tidak langsung; dapat berupa kajian pustaka/buku, kajian suatu masalah, atau analisis fakta hasil observasi. Laporan penelitian merupakan sebuah tulisan yang dibuat setelah seseorang melakukan  penelitian, pengamatan, wawancara, pembacaan buku, percobaan, dan lain-lain. Adapun skripsi merupakan jenis karya ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa strata satu (S1) untuk memperoleh gelar sarjana; tesis ditulis oleh mahasiswa strata dua (S2) untuk memperoleh gelar magister; dan disertasi ditulis oleh mahasiswa strata tiga (S3) untuk memperoleh gelar doktor. Namun, untuk keperluan diklat ini, pembicaraan selanjutnya akan difokuskan pada penulisan laporan penelitian.

4. Sistematika Laporan Penelitian

Komponen-komponen penting dalam  laporan penelitian dan muatan tiap-tiap bagian disusun dengan urutan sebagai berikut.

(1)   Bagian awal
(a)    Halaman sampul/judul
(b)   Halaman Pengesahan (Jika diperlukan)
(c)    Abstrak
(d)   Kata pengantar
(e)    Daftar isi
(f)    Daftar tabel (jika ada)
(g)   Daftar gambar (jika ada)
(2)   Bagian pokok/utama
(a) Pendahuluan (berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian)
(b)   Kajian pustaka, kerangka teoretik, dan pengajuan hipotesis (jika diperlukan)
(c) Metode penelitian
(d) Hasil penelitian, pengujian hipotesis, dan pembahasan
(c)    Penutup (berisi simpulan, dan saran)
(3)   Bagian akhir
(a) Daftar pustaka
(b)   Lampiran-lampiran (jika ada)

5. Cara Penulisan Karya Ilmiah
5.1 Topik dan Judul

Kegiatan yang pertama kali dilakukan sebelum menulis adalah menentukan topik. Hal ini berarti bahwa harus ditentukan terlebih dahulu apa yang akan dibahas dalam tulisan. Dalam memilih topik perlu dipertimbangkan beberapa hal, yaitu:
(1) topik itu ada manfaatnya dan layak dibahas,
(2) topik itu cukup menarik terutama bagi penulis,
(3) topik itu dikenal dengan baik,
(4)   bahan yang diperlukan dapat diperoleh dan cukup memadai, dan
(5) topik itu tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit.
      Contoh: “Usaha kecil dan menengah”  (terlalu luas)
                     “Pengembangan usaha kecil dan menengah” (terbatas)

Setelah diperoleh topik, dalam pelaksanaannya topik yang dipilih itu harus dinyatakan dalam suatu judul. Topik ialah pokok pembicaraan dalam keseluruahan karangan yang akan digarap, sedangkan judul adalah nama, titel, atau semacam label untuk suatu karangan. Pernyataan topik mungkin sama dengan judul, tetapi mungkin juga tidak, misalnya dalan karya sastra. Namun, dalam karya ilmiah judul harus tepat menunjukkan topiknya. Penentuan judul harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain:

(1) judul harus sesuai dengan topik atau isi karangan,
(2) judul sebaiknya dinyatakan dalam bentuk frasa, bukan kalimat,
      Contoh: Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah di Yogyakarta ( baik)      
                    Usaha Kecil dan Menengah di Yogyakarta Perlu Dikembangkan (tidak baik) 
(3) judul diusahakan singkat,
(4) judul harus dinyatakan secara jelas.

5.2 Abstrak

Abstrak berisi intisari menyeluruh tentang isi tulisan, mulai dari judul, tujuan, metode, dan rumusan hasil/temuan. Abstrak ditulis dengan spasi tunggal. Untuk makalah, abstrak cukup satu paragraf, sedangkan untuk laporan penelitian terdiri atas tiga paragraf yang masing-masing memuat hal-hal di atas.

5.3 Kata Pengantar

Kata pengantar berisi puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang secara langsung atau tidak langsung berperan dalam kegiatan penulisan tersebut, dan permintaan kritik dari pembaca demi perbaikan.

5.4 Pendahuluan

Pendahuluan berfungsi menyadarkan pembaca akan pentingnya topik yang dibahas sehingga pembaca merasa perlu mengetahui topik itu lebih jauh dan pembahasannya. Oleh karena itu, dalam pendahuluan perlu dikemukakan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan,  dan manfaat penelitian.

5.5 Kajian Pustaka dan Kerangka Teoretik

Pengertian kajian pustaka dan kerangka teoretik itu berbeda. Kajian pustaka berisi pembahasan tentang kajian-kajian terdahulu yang relevan dengan topik penelitian, sedangkan kerangka teoretik adalah seperangkat teori yang dipakai sebagai landasan penelitian. Oleh karena itu, pemecahan masalah penelitian harus berlandaskan pada teori dan kajian terhadap hasil-hasil penelitian sebelumnya yang terkait dengan permasalahan yang dibahas. Dari kajian itu didapatkan jawaban sementara atas permasalahan yang telah dirumuskan. Jawaban sementara tersebut biasa disebut hipotesis.

5.6 Metode Penelitian

Setelah kajian teoretik dirumuskan, langkah selanjutnya adalah merumuskan metode yang dipakai dalam penelitian. Metode penelitian tersebut meliputi apa atau siapa yang diteliti, bagaimana memilih sampel dari populasinya, data apa saja yang harus dikumpulkan dan dengan metode apa data itu dikumpulkan, teknik  analisis data yang manakah yang digunakan. 

5.7 Pembahasan

Bagian ini berisi analisis, pembahasan, dan pemaknaan data yang yang telah dikumpulkan. Kelengkapan data yang diperoleh sangat mendukung kesahihan hasil analisis. Dan, kecermatan analisis dan pemaknaan data sangat menentukan kualitas hasil kajian.

5.8 Simpulan

Simpulan merupakan hasil yang diperoleh dari pembahasan masalah sesuai dengan tujuan penelitian. Oleh karena itu, simpulan harus menjawab permasalahan dan harus sesuai dengan tujuan.

6. Teknik Penulisan Karya Ilmiah

Ketentuan-ketantuan yang harus diperhatikan dalam penulisan karya ilmiah meliputi (1) penggunaan kertas, (2) teknik pengetikan, (3) penomoran, (4) penulisan sumber rujukan atau referensi, dan (5) penulisan daftar pustaka.

6.1 Penggunaan Kertas

Kertas yang dipakai adalah kertas HVS, berwarna putih, berat 80 gram, dan berukuran kuato (21.5 x 28 cm). Naskah ditulis pada satu sisi.

6.2 Teknik Pengetikan

1) Penggunaan Huruf
Naskah karya ilmiah diketik dengan huruf standar (Times New Roman 12) dan dengan pita atau tinta berwarna hitam.

2) Jarak Spasi
Jarak antarbaris adalah satu setengah spasi, kecuali abstrak, terusan nama bab, terusan nama judul tabel, terusan nama judul grafik/gambar, dan kutipan langsung yang lebih dari empat baris harus diketik dengan jarak satu spasi. Penulisan antarbaris pada setiap sumber pustaka diketik dengan jarak satu spasi, sedangkan penulisan antarsumber dalam daftar pustaka deketik dengan jarak dua spasi.

3) Batas Tepi Pengetikan
Batas tepi pengetikan adalah sebagai berikut.
(1) Tepi atas    : 4 cm
(2) Tepi bawah : 3 cm
(3) Tepi kiri     : 4 cm
(4) Tepi kanan : 3 cm

4) Penulisan Judul, Bab, dan Subbab
Penulisan judul, bab, subbab, dan anak subbab mengikuti ketentuan berikut ini.
(1)   Judul dan bab ditulis dengan huruf kapital semua, tidak diakhiri tanda baca apa pun, dan ditulis pada posisi tengah. Nomor bab ditulis dengan angka romawi.
(2)   Penulisan subjudul, subbab, dan anak subbab menggunakaan huruf kapital pada setiap awal kata kecuali kata tugas; dan dimulai dari batas tepi kiri dan tidak menggunakan garis bawah serta tidak diakhiri tanda baca apa pun.

5) Penulisan Paragraf  Baru
Penulisan paragraf baru dimulai setelah ketukan kelima dari tepi kiri atau dengan sistem lurus, tetapi harus diberi jarak spasi dua kali lipat.

6) Penulisan Nama
Penulisan nama pengarang, baik yang diacu dalam tubuh karangan maupun yang dicantumkan pada daftar pustaka mengikuti ketentuan berikut ini.
(1)   Nama pengarang yang diacu dalam tubuh tulisan hanya ditulis nama pokoknya. Misalnya, “Ahmad Sudargo”, yang ditulis hanya “Sudargo”.
(2)   Pada daftar pustaka, nama yang terdiri atas dua penggal nama atau lebih ditulis nama pokok (belakang), kemudian tanda koma dan diikuti nama depanya. Misalnya, “Ahmad Sudargo” penulisannya menjadi “Sudargo, Ahmad”.
(3)   Pengarang buku yang terdiri atas dua orang ditulis secara lengkap.
(4)   Pengarang buku yang lebih dari tiga orang ditulis nama pengarang pertama dan diikuti singkatan “dkk.”
(5)   Gelar kesarjanaan atau jabatan akademis tidak dicantumkan.

7) Penulisan Tabel dan Grafik
Penulisan tabel dan grafik mengikuti ketentuan berikut.
(1)   Penulisan tabel diupayakan jangan ganti halaman.
(2)   Nomor dan judul tabel ditempatkan simetris di atas tabel.
(3)   Nomor dan judul grafik ditempatkan simetris di bawah grafik.
(4)   Penulisan judul tabel dan grafik tidak diakhiri tanda baca apa pun.
(5)   Penulisan nomor urut tabel menggunakan angka Arab, sedangkan penulisan nomor urut grafik menggunakan angka Romawi.

6.3 Sistematika Penomoran

Sistematika penomoran mengikuti ketentuan berikut.
(1)   Penomoran bab, subbab, dan anak subbab dapat dilakukan dengan dua cara.

Cara Pertama
Sistem campuran, yakni dimulai dari angka romawi besar (untuk bab), huruf kapital (untuk subbab), angka arab (untuk anak subbab), huruf kecil (untuk anak-anak subbab), angka arab diikuti satu kurung, dan seterusnya. Contoh:
BAB III
            A.
            B.
1.
2.
a.
b.
1)
2)
a)
b)
C. dst.

Cara kedua
Sistem angka penuh, yaitu dimulai dari angka romawi besar (untuk bab), kemudian menggunakan angka arab semua, dan seterusnya.
Contoh:

BAB III
3.1
3.1.1
3.1.2
3.1.3
3.2
3.2.1
3.2.2
3.2.2.1
3.2.2.2
3.2.2.3
3.3 dst.

(2)   Penomoran halaman pada naskah utama menggunakan angka arab.
(3)   Penomoran halaman pelengkap, seperti halaman judul, halaman pengantar, dan halaman daftar isi menggunakan angka romawi kecil ( i, ii, iii, iv, v, vi, dst.) dan diletakkan pada bagian bawah tengah.
(4)   Penulisan daftar pustaka tidak diperbolehkan menggunakan nomor.
(5)   Penomoran bab, subbab dan seterusnya dalam daftar isi dituliskan di tepi sebelah kanan  sesuai dengan penulisan bab atausubbab yang bersangkutan.

6.4 Penulisan Sumber/Referensi

Penulisan sumber atau referensi bacaan yang dikutip dalam naskah karya ilmiah mengikuti ketentuan berikut.
(1)   Sumber bacaan yang ditulis di antara tanda kurung pada akhir kutipan terdiri atas nama pokok pengarang, tahun penerbitan, dan nomor halaman. Tanda koma digunakan di antara nama pokok dan tahun penerbitan, sedangkan tanda titik dua di antara tahun penerbitan dan nomor halaman.

Contoh:
Surat adalah satu sarana untuk menyampaikan pernyataan atau informasi secara tertulis dari pihak yang satu kepada pihak yang lain (Bratawidjaja, 1995:5).
(2)   Apabila nama pengarang sudah disebutkan lebih dahulu, sumber yang ditulis di antara tanda kurung hanyalah tahun penerbitan dan nomor halaman yang diacu.
Contoh:
Menurut Bratawidjaya (1995:5) surat adalah satu sarana untuk menyampaikan pernyataan atau informasi secara tertulis dari pihak yang satu kepada pihak yang lain.

6.5 Penulisan Daftar Pustaka

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun daftar pustaka:
(1) daftar pustaka  tidak diberi nomor urut,
(2) daftar pustka disusun secara  alfabetis  (menurut abjad),
(3) gelar penulis tidak dicantumkan.

Daftar pustaka dapat berupa penulisan buku, penulisan artikel, dan penulisan publikasi lain.

1) Buku
Penulisan buku dalam daftar pustaka disusun mengikuti urutan: (1) nama pengarang, (2) tahun penerbitan,  (3) judul buku, (4) tempat penerbitan, dan (5) nama penerbit. Di antara satuan itu dipergunakan tanda “titik”, kecuali di antara tempat penerbitan dan nama penerbit digunakan tanda “titik dua”. Judul buku dicetak miring dan setiap awal kata ditulis dengan huruf kapital, kecuali kata depan.

Contoh penulisan buku dengan seorang pengarang
Keraf, Gorys. 1993. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende: Nusa Indah.

Contoh penulisan buku dengan dua atau tiga pengarang
Akhadiah, Sabarti, Maidar G. Arsjad, dan Sakura H. Ridwan. 1992. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Contoh penulisan buku lebih dari tiga orang
Alwi, Hasan dkk. 1993. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

2) Artikel
Penulisan artikel dalam daftar pustaka menggunakan urutan (1) nama pengarang, (2) tahun penerbitan, (3) judul artikel, (4) nama majalah, (5) volume atau halaman dimuatnya artikel, (6) tempat penerbitan, dan (7) nama penerbit. Judul artikel ditulis di antara tanda “petik dua”; nama majalah dicetak miring; di antara satuan digunakan tanda “titik”, kecuali di antara nama editor dan nama majalah, di antara nama majalah dan volume atau halaman digunakan tanda “koma”; di antara tempat penerbitan dan nama penerbit digunakan tanda “titik dua”.

Contoh penulisan artikel dalam majalah
Madya, Suwarsih. 1994. “Penelitian Tindakan dalam Pendidikan”. dalam Diksi, No.4, Tahun II, halaman 67-82. Yogyakarta: FPBS IKIP Yogyakarta.

3) Penerbitan Pemerintah, Lembaga-Lembaga Ilmiah, dan Organisasi Lainnya
Penulisan daftar pustaka untuk penerbitan pemerintah, Lembaga-lembaga ilmiah, dan organisasi  lainnya menggunakan urutan: (1) lembaga yang bertanggung jawab atas penulisan dokumen, (2) tahun penerbitan, (3) judul tulisan, (4) tempat penerbitan, dan (5) nama penerbit.
Contoh:
Depdikbud. 1975. Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

7. Ragam Bahasa Ilmiah
Bahasa Indonesia ragam ilmiah adalah bahasa Indonesia yang digunakan oleh para cendekiawan untuk mengomonikasikan ilmu pengetahuan.

Ragam bahasa ilmiah tersebut memiliki sifat-sifat berikut.
(1) Ragam bahasa ilmiah termasuk ragam bahasa baku. Oleh karena itu, penulisan karangan ilmiah mengikuti kaidah-kaidah bahasa baku, yaitu dalam ragam tulis menggunakan ejaan yang baku (EYD), menggunakan kata-kata, struktur frasa, dan kalimat yang baku atau sudah dibakukan.
(2) Dalam ragam bahasa ilmiah banyak digunakan kata-kata istilah. Kata-kata tersebut digunakan dalam arti denotatif, bukan dalam arti konotatif.
(3) Dalam ragam bahasa ilmiah digunakan kalimat yang efektif, yaitu kalimat yang secara tepat dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis, dan dapat menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis.
(4) Ragam bahasa ilmiah lebih berkomunikasi dengan pikiran daripada dengan perasaan; bersifat tenang, jelas, hemat, dan tidak emosional.
(5) Hubungan gramatik antara unsur-unsurnya, baik dalam kalimat maupun dalam paragraf, dan hubungan antara paragraf satu dan paragraf yang lain bersifat padu. Untuk menyatakan hubungan digunakan alat-alat penghubung, seperti kata-kata penunjuk, kata-kata penghubung, pengulangan kata atau frasa, penggantian, dll.
(6) Hubungan semantis antara unsur-unsurnya bersifat logis. Penggunaan kalimat yang bermakna ganda atau ambiguous harus dihindari.
(7) Penggunaan kalimat pasif lebih diutamakan karena dalam kalimat pasif peristiwa lebih dikemukakan daripada pelaku perbuatan.
(8) Konsisten dalam segala hal, misalnya dalam penggunaan istilah, singkatan, tanda-tanda, dan kata ganti diri.
 
Daftar Pustaka

Akhadiah, Sabarti., Maidar G. Arsjad, dan Sakura H. Ridwan. 1988. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Alwi, Hasan dkk. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Arifin, E. Zaenal. 2004. Dasar-Dasar Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta: Grasindo.

Brotowidjoyo, Mukayat D. 1985. Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta: Akademika Pressindo.

Effendi, S. 1987. Pedoman Penulisan Laporan Penelitian. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Keraf, Gorys. 1993. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende: Nusa Indah.

Parera, J.D. 1982. Menulis Tertib dan Sistematis. Jakarta: Erlangga.

Ramlan,M. dkk. 1992. Bahasa Indonesia yang Salah dan yang Benar. Yogyakarta: Andi Offset.

Soeparno, Haryadi, dan Suhardi. 1997. Bahasa Indonesia untuk Ekonomi. Yogyakarta: Ekonisia.

Sugono, Dendi. 1997. Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: Puspa Swara.

DMC