CONTOH MAKALAH PENDIDIKAN ANAK AUTISM |KARAKTER ANAK AUTISM | PENANGANAN ANAK AUTISM

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Usia Pra Sekolah berkisar antara empat sampai enam tahun. Dari segi umur, anak TK memang sama. Namun setiap anak mempunyai karakteristik sendiri, oleh sebab itu anak bersifat unik. Berdasarkan perbedaan individual tersebut, maka permasalahan yang di alami anakpun tidak sama. Permasalahan tersebut dapat dilihat melalui tingkah laku anak pada saat mengikuti proses pembelajaran di sekolah maupun pada saat bermain.


Masalah yang dihadapi olrh anak-anak TK ini erat kaitannya dengan gangguan pada perkembangan anak. Bila tidak segera diatasi, gangguan ini akan berlanjut pada fase perkembangan selanjutnya. Oleh karena itu, seorang guru perlu mengetahui berbagai masalah yang dihadapi anak agar dapat membantu anak dalam memecahkannya.

Autism adalah gangguan perkembangan yang muncul di awal kehidupan seorang anak, yang ditandai oleh ketidakmampuan untuk berhubungan dengan orang lain, masalah dalam hal komunikasi, dan adanya pola tingkah laku tertentu yang diulang-ulang. Anak dengan gangguan autism secara sepintas tampak tidak bermasalah. Namun bila dicermati lebih mendalam akan terlihat bahwa mereka mengalami keterlambatan perkembangan (khusunya dalam hal bahasa) serta mereka menunjukkan perilaku aneh (misalnya sering mengkibas-kibaskan tangan, bergerak berputar-putar, atau sering memandang dengan sudut mata).

B. Rumusan Masalah

Untuk mempermudah penulisan agar tidak terjadi kesimpang siuran pembahasan dalam makalah ini maka penulis merumuskan permasalahan berupa pertanyaan:

1. Apa pengertian dari anak Autism?

2. Sebutkan ciri-ciri anak Autism?

3. bagaimana cara mengatasi anak Autism?

C. Tujuan dan Manfaat
Tujuan

Setiap kegiatan yang akan dilakukan tentu memiliki tujuan yang diarahkan. Begitu pun penulisan Tugas Akhir ini diharapkan mencapai tujuan sebagai berikut:

1. Dapat mengetahui karakteristik anak autism.

2. Bagaimana cara-cara mendiagnosa anak autism.

3. Langkah-langkah apa saja yang dilakukan guru untuk mengatasi anak autism.


Manfaat

Penulisan tugas akhir ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada bagian pihak sebagai berikut:

a. Bagi Guru TK

- Dapat mengantisipasi anak-anak dengan gangguan autism.

b. Bagi Anak TK

- Dapat menyesuaikan diri dengan teman-teman.

- Mempercepat anak untuk melakukan sosialisasi dengan teman-temannya di TK.

c. Bagi Lembaga TK

- Dapat memepersiapkan diri dalam menghadapi anak-anak yang bermasalah.

- Dapat mempersiapkan guru-guru yang berkompetensi dalam menghadapi anak yang bermasalah.

- Dapat memberi output (hasil) yang memadai untuk perkembangan dilembaga pendidikan sekolahnya.

d. Bagi Penulis

- Untuk menambah wawasan bagi calon guru.

- Sebagai pengalaman bagi calon guru dalam menulis karya ilmiah.

e. Bagi Orang tua

- Dapat bekerja sama dengan guru untuk mengatasi anak autism.


BAB II

PEMBAHASAN MASALAH

A. Landasan Teori

1. Pengertian Anak Autism

Istilah autism pertama diperkenalkan pertama kali pada tahun 1943 oleh Dr. Leo Kanner, seorang psikiater anak dari Universitas Jhons Hopteins.

Kanner menyatakan bahwa pada sekelompok anak yang ditelitinya adanya suatu gangguan mendasar dimana anak-anak tersebut sejak awal kehidupan tidak mampu melakukan interaksi sosial terhadap orang lain. Atau situasi teretntu seperti halnya anak yang yang normal. Selain itu ditemukan pula ada banyak kegagalan dalam membangun kemampuan berkomunikasi atau (terjadinya) keterbatasan dalam berbahasa. Gejala lainnya adalah terjadinya keinginan yang kuat untuk mempertahankan lingkungan sekitar tetap sama.

Gejala-gejala autism bisanya muncul sebelum anak mencapai usia 3 tahun dan pada sebagaian anak gejalanya sudah ada sejak lahir. Sebagian kecil penyandang autism sempat berkembang normal, namun sebelum usia 3 tahun perkembangan menjadi berhenti, kemudian timbul kemunduran dan tampak gejala autism.

Berdasarkan pendapat di atas maka autism dapat dikatakan sebagai suatu gangguan perkembanganyang muncul di awal kehidupan seorang anak yang ditandai oleh ketidakmampuan anak untuk berhubungan dengan orang lain, adanya masalah dalam hal berkomunikasi, dan muncul kebutuhan untuk melakukan aktivitas yang sama dan berulang.

2. Karakteristik Anak Autism

Gangguan autism ditandai dengan adanya keterlambatan perkembangan baik dalam bidang komunikasi, perkembangan motorik yang tidak seimbang, maupun dalam interaksi sosial. Namun tidak semua anak yang memperlihatkan keterlambatan perkembangan diusianya yang dini akan didiagnosis sebagai penyandang autism. Bisa saja anak menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang lebih lambat dibandingkan anak seusianya pada awalnya, namun kemudian ia akan dapat mengejar ketinggalan tersebut dan tumbuh selayaknya anak normal lainnya.

Orang tua sebaiknya cermat dalam mencatat pertumbuhan dan perkembangan anak. Bukan hanya terfokus pada perkemabangan fisik anak, namun juga harus memperhatikan kesekuruhan aspek pengembangan, yaitu motorik, emosional, dan sosial anak. Apabila mulai muncul kecurigaan orang tua akan adanya keterlambatan dalam salah satu atau beberapa aspek perkembangan maka orang tua dapat segera mengkonsultasikan kepada para ahli. Pada kasus autism, deteksi dan intervensi sendiri mungkin sangat penting.

Sebagai seorang guru TK yang berhubungan dengan perilaku anak sehari-hari di dalam kelas, dapat ikut mengobservasi atau mengamati apabila muncul kecurigaan pada “perilaku aneh” yang tampak pada satu atau dua orang siswa di kelas. Karakteristik anak autism yang mungkin terlihat dalam pengamatan adalah sebagai berikut:

1. Perkembangan terlambat bila dibandingkan dengan anak-anak seusianya, baik secara motorik, bahasa, maupun dalam interaksi sosial.

2. Anak autism lebih tertarik pada benda dibandingkan dengan manusia, termasuk orang tua dan pengasuhnya.

3. Anak autism tidak mau dipeluk atau diperlakukan dengan kehangatan oleh gurunya. Mereka cenderung menunjukkan posisi tubuh yang kaku, tidak berusaha mendekatkan diri agar bisa dipeluk.
4. Anak autism memiliki kelainan sensoris, misalnya tidak peka terhadap rasa sakit atau malah sangat terganggu dengan suara radio yang normal. Banyak anak autism yang sering melukai dirinya sendiri, misalnya membenturkan kepala ke tembok. Hal ini disebabkan oleh ambang batas sensorisnya yang sangat tinggi yang membuat mereka seakan tidak merasakan rasa sakit.
5. Anak autism biasanya menunjukkan adanya suatu pola tertentu yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam hal perilaku, minat, dan kegiatan. Mereka dapat dalam waktu lama terokupasi pada suatu kegiatan tertentu, misalnya selalu menyala-matikan lampu kelas atau bergerak tidak wajar, misalnya berputar-putar tanpa merasa pusing. Anak autism memiliki penampilan fisik yang normal sehingga perlu dilakukan pengamatan yang cermat untuk menemukan bahwa menunjukkan perilaku yang tidak sewajarnya.

B. Pembahasan Materi
1. Penanganan Anak Autism

Penanganan pada anak-anak penyandang autism tidak diarahkan untuk “menumpas” sumber masalah, melainkan untuk “mengejar” keterlambatan perkembangan yang dialaminya agar sesuai dengan perkembangan anak-anak seusianya. Hal ini dilakukan karena sampai sekarang penyebab pasti gangguan autism inhi belum diketahui dan sifatnya masih sangat individu.
Usia balita merupakan saat paling tepat memberikan penanganan pada kasus anak autism karena masa balita adalah masa awal untuk memeplajari sesuatu. Penanganan anak autism biasanya berbentuk terapi. Walaupun masih harus diteliti, namun diyakini bahwa anak menyandang autism memiliki gangguan pada bagian otaknya. Disinilah terapi berperan sebagai stimulasia bagi perkembangan fungsi sel-sel otak tersebut.

2. Macam-macam Terapi Bagi Anak Autism

Ketidakmampuan penyandang autism untuk berkomunikasi serta keterkaitan terhadap kegiatan ritual membuat anak autism seakan hidup dalam dunianya sendiri. Hal tersebut tentu saja akan tampak berbeda bila dibandingkan dengan perkembangan anak normal seusianya. Disinilah terapi berperan sebagai stimulasi bagi perkembangan fungsi sel-sel otak tersebut. Ada dua metode terapi yang paling sering diberikan untuk menangani anak-anak penyandang autism, yaitu Metode Lovaas (ABA) dan Sensory Integration Therapy (terapi SI).
Metode Lovaas mendasarkan diri pada pemberian reward dan punishment. Setiap kali perilaku yang diaharapkan atau diinginkan muncul, anak akan diberi hadiah. Begitu pun sebaliknya, bila perilaku yang tidak diinginkan muncul, anak akan mendapat hukuman. Dalam aturannya metode lovaas harus dilakukan selama 40 jam/minggu.
Terapi SI mendasarkan diri pada peningkatan kemampuan integrasi sensoris. Kemampuan integrasi sensoris adalah kemampuan untuk memproses implus yang diterima dari berbagai indera secara stimulus yang bervariasi, antara lain: ayunan, bola, trampolin, sikat dan baju yang lembut, parfum, almpu-lampu berwarna, pemijatan, dan barang-barang dengan tekstur yang bervariasi.

3. Terapi dan Kesembuhan
Walupun anak autism harus mengikuti terapi untuk mengembangkan kemampuannya yang tertinggal, namun terapi bukan mukjizat, dalam arti bila anak terlihat ikut terapi maka ia akan “sembuh”. Autism adalah masalah individual sehingga setiap anak harus ditangani secara individual. Suatu pendekatan yang cocok untuk anak yang lain.
Cepat atau lambatnya kemajuan seorang anak tidak hanya ditentukan oleh metode terapi atau ahli terapi yang handal tetapi juga oleh faktor internal anak tersebut yang meliputi keparahan gejala autism yang diderita serta aspek inteligensi dan kepribadiannya. Selain itu usaha pengobatan yang dilakukan serta intervensi yang diberikan di rumah juga ikut mendukung kemajuan dan perkembangan anak tersebut.
4. Penanganan Autism oleh Guru
Pada umumnya anak autism memiliki IQ pada renatng batas normal. Sehingga banyak anak autism yang pada akhirnya ditransfer ke sekolah umum. Kemampuan membaca, matematika, maupun akademis secara umum tidak tertinggal dari teman-temannya.
Yang menjadi masalah selanjutnya adalah masalah komunikasi dan sosialisasi. Kemungkinan juga akan muncul perilaku agresif dikarenakan anak tidak dapat mengendalikan emosinya.
Hal-hal yang dapat dilakukan oleh guru dalam mengahadapi anak autism di dalam kelas diantaranya:
a. Belajar menyelami emosi anak autism sehingga guru anak dapat merespon emosi yang keluar dengan tepat.
b. Terus memberikan stimulasi pada anak, perhatikan agar anak tidak tenggelam dalam dunianya sendiri, kembangkan kemampuan komunikasi dua arahnya,
c. Melatih insting sosial dan mengajarkan interaksi sosial antara anak dengan guru dan teman-temannya.
d. Mencari dan mengembangkan potensi anak karena tidak semua anak autism ber-IQ rendah, bahkan beberapa di antara mereka mungkin memiliki bakat dan kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh anak lain.


BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Autism adalah suatu gangguan perkembangan yang muncul di awal kehidupan seorang anak yang ditandai oleh ketidakmampuan anak untuk berhubungan dengan orang lain, adanya masalah dalam berkomunikasi, dan adanya pola tingkah laku tertentu atau kebutuhan untuk melakukan aktivitas yang sama dan berulang.

Usia balita merupakan saat paling tepat memberikan penanganaan pada kasus anak autism karena masa balita adalah masa awal untuk mempelajari sesuatu. Saat ini perhatian masyarakat terhadap masalah autism mulai meningkat seiring semakin banyaknya keluhan berkaitan dengan terjadinya gangguan tersebut pada anak. Penderita autism juga semakin banyak, orang tua kini mencermati perkembangan anaknya bahkan diusianya yang sangat dini.

B. Saran

Masalah yang dihadapi oleh anak-anak TK ini erat kaitannya dengan gangguan pada perkembangan anak. Bila tidak segera diatasi, gangguan ini akan berlanjut pada fase perkembangan selanjutnya. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya cermat dalam mencatat pertumbuhan dan perkembangan anak. Dan guru juga perlu mengetahui berbagai masalah yang dihadapi anak agar dapat membantu anak dalam memecahkannya.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................
A. Latar Belakang Masalah.................................................................
B. Rumusan Masalah...........................................................................
C. Tujuan dan Manfaat.......................................................................
BAB II PEMBAHASAN MASALAH...........................................................
A. Landasan Teori...............................................................................
1. Pengertian Anak Autism..........................................................
2. Karakteristik Anak Autism.......................................................
B. Pembahasan Materi.........................................................................
1. Penanganan Anak Autism........................................................
2. Macam-macam Terapi Bagi Anak Autism................................
3. Terapi dan Kesembuhan...........................................................
4. Penanganan Autism Oleh Guru................................................
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN.......................................................
A. Kesimpulan.....................................................................................
B. Saran...............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................


DAFTAR PUSTAKA

Hildayani, Rini dkk. (2007). Penanganan Anak Berkelainan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Hawadi, Reni Akabar. (2001). Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: PT. Gramedia Widiasasana Indonesia.
Sutadi, Rusdokoto dkk. Permasalahan Taman Kanak-kanak. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Akademik.

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1876933177057504259#editor/target=post;postID=5371994158039169114
close

DMC