MAKALAH TENTANG BUSUNG LAPAR

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Konsep pendekatan dalam upaya penanganan kesehatan masyarakat mengalami banyak perubahan sejalan dengan pemahaman dan pengetahuan kita bagaimana suatu masyarakat menghayati dan menghargai bahwa kesehatan merupakan modal dasar manusia yang sangat besar nilainya. Pemahaman masyarakat tentang sebab penyakit, konsep rumahsakit, pelayanan medis dan keperawatan serta pemahaman bahwa upaya kesehatan sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia akan mendasari bagaimana upaya kesehatan diselenggaraka
Pada dekade 90-an upaya kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah masih berorientasi pada penanggulangan penyakit dan upaya penyembuhan, yang seringkali menimbulkan pendapat bahwa apabila semua orang yanag sakit bisa diobati dan dirawat maka masyarakat akan menjadi sehat, padahal ada yang lebih penting dari upaya tersebut yaitu tindakan promotif dan preventif.
Pada tanggal 15 september 1998, Menteri Kesehatan Prof. Dr. F. A. Moeloek dalam rapat kerja dengan komisi V DPR-RI menyatakan bahwa Depkes akan memperkenalkan paradigma baru yaitu; Paradigma Sehat, dimana pembangunan kesehatan lebih ditekankan pada upaya promotif dan preventif dibandingkan upaya kuratif dan rehabilitatif.
Dengan adanya paradigma baru ini berarti upaya kesehatan masyarakat lebih dititk beratkan pada pembinaan kesehatan, karena membina bangsa yang sehat jauh lebih luas dari sekadar upaya menyembuhkan penduduk yang sakit. Kegiatan ini dilakukan dengan pendekatan yang holistik, multisektor, release approach (menciptakan masyarakat untuk sehat, mandiri, lebih tahan terhadap penyakit, bebas dari ketergantungan obat dan pelayanan medis).

Walaupun konsep paradigma baru ini telah dilaksanakan oleh pemerintah dan memperlihatkan kemajuan, namun sampai saat ini masih banyak masalah-masalah kesehatan yang terjadi didalam masyarakat, misalnya; masih tingginya angka Wanita Usia Subur yang mengalami kurang energi kronis, 24,9 % pada tahun 1999 dan 21,5 % pada tahun 2000, prevalensi BBLR masih berkisar 7-14 % pada periode tahun 1990-2000, masih tingginya angka penderita TB paru, penderita gizi buruk dan kurang gizi pada anak mencapai 1.520.000 orang dll.

Faktor penyebab yang paling dominan dalam hal ini adalah adanya krisis ekonomi yang mengakibatkan tingkat inflasi mencapai 80 %, pengangguran mencapai 17 juta orang dan tingkat kemiskinan mencapai 79,4 juta orang setara dengan 40 % dari jumlah penduduk indonesia pada tahun 1970 (Menteri koperasi 1998 dalam Zakaria, 1999). Kemiskinan menyebabkan rendahnya daya beli masyarakat untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan konsumsi sehari-hari. Tidak terpenuhinya kebutuhan pangan dapat berakibat timbulnya masalah kekurangan gizi pada kelompok rentan, seperti bayi dan anak balita, ibu hamil dan ibu menyusui

B. TUJUAN
Mendapatkan gambaran dan pengetahuan tentang masalah-masalah/issue kesehatan komunitas yang sedang terjadi pada saat ini


BAB II
PEMBAHASAN

A. ISSUE

Busung lapar dan gizi buruk tiba-tiba mengentak kesadaran kita. Di negeri yang katanya gemah-ripah loh jinawi ini, terdapat lima juta anak menderita kurang gizi dan ratusan ribu lagi menderita gizi buruk. Bahkan, sudah 49 anak balita meninggal dunia. Mengapa ini terjadi ?”

B. ANALISA
Busung lapar dan gizi buruk merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang saat ini sedang menjadi topik nasional, ada beberap faktor yang berhubungan erat dengan kejadian tersebut yaitu :

1). Ketahanan pangan tingkat rumah tangga
Ketahanan pangan di tingkat rumah tangga sangat tergantung dari cukup tidaknya pangan dikonsumsi oleh setiap anggota rumah tangga untuk mencapai gizi baik dan hidup sehat.

2). Morbiditas
Masih tingginya prevalensi gizi kurang pada anak balita berhubungan dengan msih tingginya bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR). Prevalensi BBLR ini masih berkisar antara 7 sampai 14 % pada periode 1990 – 2000. akibat dari BBLR dan gizi kurang pada balita berkelanjutan pada masalah pertumbuhan anak usia sekolah.

Berdasarkan hasil pemantauan tinggi badan anak baru masuk sekolah (TBABS), diketahui bahwa prevalensi anak pendek pada tahun 1994 adalah 39,8 5. prevlensi ini turun menjadi 36,1 % pada tahun 1999. anak yang terpantau daari TBABS adalah anak dengan usia 5 – 9 tahun. Jika jumlah anak 5 – 9 thun menurut SP 2000 diperkirakan 21.777.000, maka 7.800.000 anak usia masuk sekolah mengalami hambatan dalam pertumbuhan.

3). Kebiasaan makan dan perilaku hidup sehat

Kebiasaan makan adalah tingkah laku manusia atau kelompok maanusia dalam memenuhi kebutuhannya akan makan yang meliputi ssikap, kepercayaan dan pemilihan makanan. Sikap orang terhadap makanan dapat bersifat positif atau negatif.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebiasaan makan dari individu atau kelompok yaitu ; lingkungan alam, lingkungan sosial, lingkungan budaya dan agama, lingkungan ekonomi (ekstrinsik), asosiasi emosional, keadan jasmani dadn kejiwaan yang sedang sakit, penilaian yang lebih terhadap mutu makanan (instrinsik).
Salah satu pengalaman menarik yang pernah dikemukakan : “Ada seorang anak yang menderita marasmus berat sementara ibunya adalah pedagang telur di pasar. Anak-anak hanya diberi makan dengan kaldu rebusan daging yang digarami padahal ibunya pemilik warung makanan dengan berjualan makanan yang penuh gizi”.

4). Pola asuh
Analisa pola asuh yaang dapat dikaji adalah pemberian ASI pada anak balita. Informasi yang dapat dikaji berdasarkan SUSENAS 1995 dan 2003. secara nasional ASI terutama pada bayi di bawah 1 tahun menurun dari 46,5 % tahun 1995 menjadi 31,1 % pada tahun 2003.
Jika dikaji berdasarkaan lamanya pemberian ASI saja sampaai 4 bulan dan 6 bulan, terlihat ada kecendrungan meningkat dari tahun 1995 yaitu 35 % menjadi 41 % pada tahun 2003. pemberian ASI saja sampai usia 6 bulan relatif masih rendah dan tidak ada peningkatan dari tahun 1995 ke tahun 2003, yaitu sekitar 15 – 17 %.
5). Kesehatan lingkungan dan pelayanan kesehatan dasar

Masalah kesehatan lingkungan dan pelayanan kesehatan dasar merupakan determinan penting dalam bidang kesehatan. Berubahnya kondisi lingkungan akan berdampak kepada berubahnya kondisi kesehatan masyarakat. Kecendrungan masalah lingkungan yaang menjadi issue penting saat ini antara lain; terjadinya perubhan iklim, mulai berkurangnyaa sumber daya alam, terjaadinya pencemaran lingkungan baik air maaupun udara.
Analisis pelayanan kesehatan dasar dapat dilakukan dari SUSENAS 2003, adaalah kelahiran pertama dan kedua yang dibantu oleh tenaga medis (dokter, bidan, tenaga kesehatan lainnya. Rata-rata anak pertama lahir dengan tenaga medis adalah 62,05 %, dan non medis 37,95 %. Sedangkan kelahiran anak kedua, rata-rata di tolong tenaga medis 68,95 % dan non medis 31,05 %.
Pelayanan gizi yang dilakukan melalui pos yandu, terutama untuk pemantauan pertumbuhan dan penyuluhan gizi berdasarkan laporan program aktifitas pos yandu cukup baik untuk balita terutama sampai usia 2 tahun dengan integraasi dengan imunisasi. Aktifitas selanjutnya sampai usia 5 tahun, cakupan program atau partisipasi masyarakat sangat bervariasi, mulai dari terendah 10 % sampai tertinggi 80 %. Jika diamati pemantauan pertumbuhan yang dilakukan rutin setiap bulan, partisipasinya masih sangat rendah yang berkisar antara 1 – 5 %.

6). Pendidikan
Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku hidup sehat. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang atau masyarakat untuk menyerap informasi dan mengimplementasikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari, khususnya dalam hal kesehatan dan gizi.

7). Kemiskinan
Pada tahun 1970-an, Indonesia dikategorikan dalam kelompok “Poor Country”, berpindah menjadi “Low-income Country” pada tahun 1980-an. Pada tahun 1995 masuk dlam rangking “Middle-income Country”.
Pada tahun 1997 terjadi krisis moneter yang di ikuti dengan krisis ekonomi sehingga penduduk miskin meningkat dan mencapai 18,2 % pada tahun 2002. Krisis ekonomi telah mengakibatkan daya beli masyarakat menurun sehingga untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi rumah tangga sangat sulit yang akhirnya dapat menimbulkan kekurangan gizi khususnya pada kelompok rentan, seperti; bayi dan balita, ibu hamil dan ibu menyusui.

C. KECENDRUNGAN PERBAIKAN GIZI DAN KESEHATAN UNTUK MASA YANG AKAN DATANG

Berangkat dari besarnya masalah gizi dan kesehatan serta bervariasinya fakrot penyebab masalah ini antar wilayah, maka diperlukan program yang komprehensif dan terintegrasi baik di tingkat kabupten, provinsi, maupun nasional. Jelas sekali kerjasama antar sektor terkait menjadi penting, selain mengurangi aktifitas yang tumpang tindih dan tidak terarah.
Berikut ini merupakan pemikiran untuk program yang akan datang, antara lain :
1. Banyak hal yang harus diperkuat untuk melaksanakan program perbaikan gizi, mulai dari ketersediaan data dan informasi secara periodik untuk dapat digunakan dalam perencanaan program yang benar dan efektif. Kajian strategi program yang efisien untuk masa yang akan datang mutlak diperlukan, mulai dari tingkat nasional sampai dengan kabupaten.
2. Melakukan program penanggulangan perbaikan gizi dan kesehatan yang bersifat preventif untuk jangka panjang, sementara kuratif dapat diberikan pada kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Bentuk program efektif seperti perbaikan perilaku kesehatan dan gizi tingkat keluarga dilakukan secara profesional mulai dipikirkan, dan tentunya dengan ketentuan atau kriteria yang spesifik lokal.
3. Melakukan strategi program khusus untuk penanggulangan kemiskinan, baik di daerah perkotaan maupun perdesaan dalam bentuk strategi pemberdayaan keluarga dan menciptakan kerjasama yang baik dengan swasta.
4. Secara bertahap melakukan peningkatan pendidikan, strategi ini merupakan strategi jangka panjang yang dapat mengangkat Indonesia dari berbagai masalah gizi dan kesehatan.
5. Peningkatan sumber daya manusia kesehatan sesuai dengan IPTEK
6. Meningkatkan mutu keterjangkauan pelayanan kesehatan, baik pelayanan rumahsakit, puskesmas maupun sarana kesehatan lainnya.
7. Mengembangkan dan memperkuat sistem monitoring dan evaluasi (surveilans) untuk kepentingan daerah, terutama untuk memperbaiki kebijakan daerah terhadap pelayanan kesehatan dan gizi.

BAB III

P E N U T U P

Perubahan konsep Paradigma Sehat dari pelayanan yang bersifat kuratif dan rehabilitatif ke pelayanan yang bersifat promotif dan preventif telah mampu meningkatkan derajat kesehatan di masyarakat.
Krisis ekonomi yang melanda negara Indonesia telah mengakibat terjadinya peningkatan kemiskinan yang berimplikasi pada masalah kesehatan gizi karena daya beli masyarakat akan kebutuhan pokok pangan menjadi menurun.
Masalah gizi dapat juga disebabkan oleh berbagai faktor yang antara lain ; faktor ekstrinsik (lingkungan alam, lingkungan sosial, lingkungan budaya dan agama, lingkungan ekonomi) dan instrinsik (asosiasi emosional, keadan jasmani dadn kejiwaan yang sedang sakit, penilaian yang lebih terhadap mutu makanan)
Untuk mengatasi masalah kesehatan dan gizi diperlukan kerjasama lintas sektoral, peningkatan keterjangkauan pelayanan kesehatan dan pengentasan kemiskinan.


DAFTAR PUSTAKA
ritonang, Arianto. Krisis Ekonomi : Akar Masalah Gizi. Media Pressindo, Yogyakarta. 2000
Khumaidi, M. Gizi Masyarakat. BPK Gunung Mulia. 1994.
Suhardjo. Sosio Budaya Masyarakat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. IPB
www.Tempo.co.id. Busung Lapar dan Disinformasi. Diakses pada tanggal 12 Juli 2005.
www.Depkes RI.id. Situasi Kesehatan dan gizi. Diakses pada tanggal 12 Juli 2005

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1876933177057504259#editor/target=post;postID=5371994158039169114
close

DMC