CONTOH SKRIPSI Pendidikan IPA di Sekolah Dasar (skripsi)


 BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Pendidikan IPA di Sekolah Dasar
Pendidikan IPA sangat penting diberikan kepada Siswa Sekolah Dasar, untuk mengenali lingkungan dan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pembelajaran dan pengembangan potensi diri pada pembelajaran IPA siswa akan memperoleh bekal pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk memahami dan menyesuaikan diri terhadap fenomena dan perubahan-perubahan di lingkungan sekitar dirinya. Pembelajaran dan pengembangan potensi ini merupakan salah satu kunci keberhasilan peningkatan kemampuan sumber daya manusia dalam memasuki dunia teknologi, termasuk teknologi informasi pada era globalisasi. Dengan tuntutan keterampilan hidup (life skill) yang semakin tinggi dan kompleks pembelajaran IPA di SD merupakan wahana untuk membekali siswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan untuk melanjutkan pendidikan dan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan disekelilingnya. Para pakar IPA sepakat bahwa dengan melibatkan siswa kedalam kegiatan IPA sejak dini akan menghasilkan generasi dewasa yang melek sains yang dapat menghadapi tantangan hidup dalam dunia yang makin kompetitif sehingga mereka mampu turut serta memilih dan mengolah informasi untuk digunakan dalam mengambil keputusan (Depdiknas, 2001:6; Rutherford, F.) dan Ahlqren, A, 1990 ; Susan, etal., 1990: 2/31; Yager, 1993: 4; Connor. 2008: 6) potensi scientist dibawa serta oleh anak dalam serangkaian kegiatan sehari-hari, berhadapan degan dunia IPA yang sederhana sampai yang membutuhkan pemikiran kompleks. Anak secara intrinsik terdorong ingin mengerti dan menelusuri apa saja. Termasuk yang berkaitan dengan IPA.
Pelajaran IPA merupakan mata pelajaran yang turut berperan penting dalam mendidik wawasan, keterampilan, serta sikap ilmiah sejak dini bagi anak. Pengajaran IPA di Sekolah Dasar dalam segi sikap dibatasi pada sikap ilmiah terhadap alam sekitar. Menurut Wyne Herlen (1987) dalam Edi Hendri (2008: 11) ada sembilan aspek yang dapat dikembangkan pada Sekolah Dasar, yakni :
a.       Sikap ingin tahu (currousity)
b.      Sikap ingin mendapatkan sesuatu yang baru (orriginality)
c.       Sikap kerja sama (cooperation)
d.      Sikap tidak putus asa (perseverance)
e.       Sikap terbuka untuk menerima (open mindedness)
f.       Sikap mawas diri (self critism)
g.      Sikap bertanggung jawab (responsibility)
h.      Sikap berpikir bebas (independence in thingking)
i.        Sikap kedisiplinan diri (self discipline)

Menurut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 pendidikan IPA secara eksplisit berupa mata pelajaran mulai diajarkan pada jenjang kelas tinggi. Sedangkan di kelas rendah pembelajaran IPA terintegrasi bersama mata pelajaran lainnya. Dalam KTSP, IPA diartikan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis dan bukan hanya kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta konsep-konsep, prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.
Pendidikan IPA di Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtadiyah (MI) diharapkan menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari dirinya dan alam sekitarnya.
Pendidikan IPA menekankan pada pemberikan pengalaman belajar secara langsung. Dalam pembelajaran tersebut siswa difasilitasi untuk mengembangkan keterampilan proses dan sikap ilmiah dalam memperoleh pengetahuan ilmiah tentang dirinya dan alam sekitar.
Dengan merujuk kepada Nuryani Rustaman (1992) dalam Edi Hendri (2000 : 40-46). Keterampilan proses yang mungkin dikembangkan dalam pembelajaran IPA di SD adalah :
1.      Melakukan pengematan (observasi)
2.      Mengajukan pertanyaan
3.      Menafsirkan hasil pengamatan (interpretasi dan inferensi)
4.      Mengelompokan (klasifikasi)
5.      Meramalkan (prediksi)
6.      Berkomunikasi
7.      Berhipotesis
8.      Merencanakan percobaan atau penyelidikan
9.      Menerapkan konsep atau prinsip
10.  Keterampilan yang menyimpulkan

Pada prinsipnya, pembelajaran IPA harus dirancang dan dilaksanakan sebagai cara “mencari tahu” dan cara mengerjakan/melakukan yang dapat membantu siswa memahami fenomena alam secara mendalam (Depdiknas).
Berdasarkan uraian diatas, hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam mengembangkan pembelajaran IPA seperti yang dikemukakan dalam kurikulum 2004 adalah :
a.       Empat pilar pendidikan dari UNESCO
b.      Iukuiri sains
c.       Konstruktivisme
d.      Sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat
e.       Pemecahan masalah
f.       Pembelajaran apa yang bermuatan nilai

Pembelajaran IPA seperti diatas, menuntut guru untuk mengubah pandangan tentang mengajar, dari guru sebagai pusat pembelajaran (teacher centered) ke siswa sebagai pusat pembelajaran (student centered). Guru membimbing dalam rangka mempermudah peristiwa belajar.
Fungsi dan tujuan pendidikan IPA di Sekolah Dasar menurut Edi Hendri dkk (2004 : 20) dalam metodologi pembelajaran sains, adalah sebagai berikut.
1.      Menanamkan pengetahuan dan konsep-konsep sains yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari
2.      Menanamkan rasa ingin tahu dan sikap positif terhadap sains dan teknologi
3.      Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar
4.      Ikut serta dalam memelihara, menjaga melestarikan lingkungan alam
5.      Mengembangkan kesadaran hubungan yang saling mempengaruhi antara sains, linkungan dan masyarakat
6.      Menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan YME
Ruang lingkup mata pelajaran IPA di SD meliputi dua dimensi, yaitu :
1.      Kerja ilmiah
2.      Pemahaman konsep dan penerapannya

Pada prinsipnya pembelajaran IPA harus merancang dan melaksanakan suatu metode pembelajaran yang tepat untuk memecahkan masalah dalam suatu penelitian. Untuk mencapai tujuan diatas maka metode yang tepat adalah metode eksperimen karena dengan metode eksperimen siswa difasilitasi untuk menemukan konsep-konsep yang rumit dan abstrak sehingga pembelajaran siswa akan meningkat.


B.     Karakteristik Siswa Sekolah Dasar
Masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hinggga kira-kira usia sebelas tahun atau dua belas tahun. Karakteristik utama siswa sekolah dasar adalah mereka menampilkan perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang, diantaranya, perbedaan dan intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan kepribadian dan perkembangan fisik anak.
Menurut Erikson perkembangan psikososial pada usia enam sampai pubertas, anak mulai memasuki dunia pengetahuan dan dunia kerja yang luas. Peristiwa penting pada tahap ini anak mulai masuk sekolah, mulai dihadapkan dengan teknologi masyarakat, disamping itu proses belajar mereka tidak hanya terjadi di sekolah.
Sedang menurut Thornburg (1984) anak sekolah dasar merupakan individu yang sedang berkembang, barang kali tidak perlu lagi diragukan keberaniannya. Setiap anak sekolah dasar sedang berada dalam perubahan fisik maupun mental mengarah yang lebih baik. Tingkah laku mereka dalam menghadapi lingkungan sosial maupun non sosial meningkat. Anak kelas empat, memiliki kemampuan tenggang rasa dan kerja sama yang lebih tinggi, bahwa ada di antara mereka yang menampakan tingkah laku mendekati tingkah laku anak remaja permulaan.
Masa usia sekolah dasar seirng disebut sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah.
Menurut Piaget adal lima faktor yang menunjang perkembangan intelektual yaitu : kedewasaan (maturation), pengalaman fisik (physical experience), penyalaman logika matematika (logical mathematical experience), transmisi sosial (social transmission), dan proses keseimbangan (equilibrium) atau proses pengaturan sendiri (self regulation) Erikson mengatakan bahwa anak usia sekolah dasar tertarik terhadap pencapaian hasil belajar.
Mereka mengembangkan rasa percaya dirinya terhadap kemampuan dan pencapaian yang baik dan relevan. Meskipun anak-anak membutuhkan keseimbangan antara perasaan dan kemampuan dengan kenyataan yang dapat mereka raih, namun perasaan akan kegagalan atau ketidakcakapan dapat memaksa mereka berperasaan negatif terhadap dirinya sendiri, sehingga menghambat mereka dalam belajar. Piaget mengidentifikasikan tahapan perkembangan intelektual yang dilalui anak yaitu :
a.       Tahap sensorik motor usia 0-2 tahun
b.      Tahap operasioanl usia 2-6 tahun
c.       Tahap operasional konkrit usia 7-11 atau 12 tahun
d.      Tahap operasional formal usia 11 atau 12 tahun ke atas

Siswa sekolah dasar berada dalam tahap operasional kongkrit, pada tahap ini anak mengembangkan pemikiran logis, masih sangat terikat pada fakta-fakta perseptual, artinya anak mampu berfikir logis, tetapi masih terbatas pada objek-objek kongkrit, dan mampu melakukan konservasi.
Bertitik tolak pada perkembangan intelektual dan psikososial siswa sekolah dasar, hal ini menunjukkan bahwa siswa mempunyai karakteristik sendiri, dimana dalam proses berfikirnya, mereka belum dapat dipisahkan dari dunia kongkrit atau hal-hal yang faktual, sedangkan perkembangan psikososial anak usia sekolah dasar masih berpijak pada prinsip yang sama dimana mereka tidak dapat dipisahkan dari hal-hal yang dapat diamati, karena mereka sudah diharapkan pada dunia pengetahuan.
Pada usia ini mereka masuk sekolah umum, proses belajar mereka tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, karena mereka sudah diperkenalkan dalam kehidupan yang nyata didalam lingkungan masyarakat. Nasution (1992) mengatakan bahwa masa kelas tinggi sekolah dasar mempunyai beberapa sifat khas sebagai berikut :
1.      Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang kongkrit
2.      Amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar
3.      Menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus.
4.      Pada umumnya anak menghadap tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikan sendiri
5.      Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukurannya yang tepat mengenai prestasi sekolah
6.      Anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk bermain bersama-sama.

Seperti dikatakan Darmodjo (1992) anak usia sekolah dasar adalah anak yang sedang mengalami pertumbuhan baik pertumbuhan intelektual, emosional maupun pertumbuhan badaniyah, dimana kecepatan pertumbuhan anak pada masing-masing aspek tersebut tidak sama, sehingga terjadi berbagai variasi tingkat pertumbuhan dari ketiga aspek tersebut. Ini suatu faktor yang menimbulkan adanya perbedaan individual pada anak-anak sekolah dasar walaupun mereka dalam usia yang sama.

C.    Pembelajaran IPA yang Efektif
Pembelajaran yang efektif secara umum diartikan sebagai kegiatan belajar mengajar yang memberdayakan potensi siswa (peserta didik) serta mengacu pada pencapaian kompetensi individual masing-masing peserta didik (Depdiknas, 2003 : 5-6) dalam Edi Hendri (2008 : 22).
Menurut Depdiknas (2003 : 7-11) dalam Edi Hendri (2008 : 23) ada tujuh ciri pembelajaran yang efektif :
1.      Berpijak pada prinsip konstruktivisme
2.      Berpusat pada siswa
3.      Belajar dengan mengalami
4.      Mengembangkan keterampilan sosial, kognitif dan emosional
5.      Mengembangkan keingintahuan, imajinasi, dan fitrah bertuhan
6.      Belajar sepanjang hayat
7.      Perpaduan kemandirian dan kerjasama

Pembelajaran IPA yang efektif juga dicirikan oleh tingginya kadar on-task (aktivitas edukatif) dan rendahnya kadar off-task (aktivitas non edukatif) siswa dalam pembelajaran. Menurut Horsley (1990 : 42) dalam Edi Hendri salah satu upaya meningkatkan kadar on-task siswa adalah dengan mengembangkan kegiatan hands-on (psikomotor) dan minds-on (kognitif-afektif) melalui sejumlah keterampilan yang dilakukan siswa dalam kelas.
Dalam menyelenggarakan pembelajaran IPA yang efektif akan dicapai apabila guru menggunakan metode yang tepat dan membimbing siswa selama proses belajar mengajar.
Dengan adanya tujuan pembelajaran yang jelas maka baik guru maupun siswa dengan melakukan proses belajar dengan baik sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

D.    Metode Eksperimen
1.      Pengertian
Menurut Winarno (1980 : 87) dalam strategi belajar mengajar. Metode eksperimen adalah kegiatan guru atau siswa untuk mencoba mengerjakan sesuatu serta mengamati proses dan hasil percobaan itu.
Sedangkan menurut Ramayulis, dalam bukunya “Metodologi Pendidikan Agama Islam” Metode eksperimen adalah suatu metode mengajar yang dilakukan murid untuk melakukan percobaan-percobaan pada mata pelajaran tertentu.
Menurut Zakiyah Daradjat “Metode eksperimen yaitu metode percobaan yang biasanya dilakukan dalam mata pelajaran tertentu sedangkan menurut Mulyasa (2005 : 110) dalam guru profesional, beliau menyebutkan bahwa metode eksperimen merupakan suatu bentuk pembelajaran yang melibatkan peserta didik bekerja dengan benda-benda atau bahan dan peralatan laboratorium baik secara perorangan atau kelompok. Sedangkan menurut Djamarah (2002 : 95) adalah cara penyajian pelajaran dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami sendiri sesuatu yang dipelajari. Dalam proses belajar mengajar dengan metode eksperimen siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati objek, keadaan atau proses sesuatu.
Menurut Roestiyah (2001 : 80) metode eksperimen adalah suatu cara mengajar, dimana siswa melakukan percobaan tentang sesuatu hal mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaan, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan evaluasi oleh guru.
Sedangkan menurut Tim Dosen UPI (2004 : 35) dalam bahan ajar pendidikan IPS bahwa metode eksperimen adalah proses belajar mengajar yang melibatkan logika induktif untuk mengumpulkan pengamatan terhadap proses dari hasil percobaan. Hal yang sama menurut Noehi Nasution (2002 : 5-24) dalam mempelajari Ilmu Pengetahuan Alam yang pelaksanaannya tidak selalu dilaboratorium tetapi juga dilakukan pada alam sekitar. Sedangkan menurut kesimpulan peneliti, metode eksperimen adalah suatu metode pembelajaran yang melibatkan siswa dalam melakukan suatu percobaan tentang sesuatu hal untuk mengetahui kerja ilmiah siswa dalam proses pembelajaran baik di laboratorium mauupn diluar laboratorium.

2.      Prosedur Pemakaian Metode Eksperimen
Agar penggunaan metode eksperimen itu efektif dan efisien maka perlu diperhatiakn hal-hal sebagai berikut :
a.         Dalam eksperimen setiap siswa harus mengadakan percobaan, maka jumlah alat dan bahan atau materi percobaan harus cukup bagi tiap siswa.
b.        Agar eksperimen itu tidak gagal dan siswa menemukan bukti yang meyakinkan atau mungkin hasilnya tidak membahayakan maka kondisi alat dan mutu bahan percobaan digunakan harus baik dan bersih.
c.         Dalam eksperimen siswa perlu teliti dan konsentrasi dalam mengamati proses percobaan, maka perlu adanya waktu yang cukup lama, sehingga mereka menemukan pembuktian kebenaran dari teori yang dipelajari itu.
d.        Siswa dalam eksperimen adalah sedang belajar dan berlatih, maka perlu diberi petunjuk yang jelas, sebab mereka disamping memperoleh pengetahuan, pengalaman serta keterampilan, juga kematangan jiwa dan sikap perlu diperhitungkan oleh guru dalam memilih obyek eksperimen itu.
e.         Tidak semua masalah bisa dieksperimenkan seperti masalah mengenai kejiwaan, beberapa segi kehidupan sosial dan keyakinan manusia. Kemungkinan lain karena sangat terbatasnya suatu alat, sehingga masalah itu tidak bisa diadakan percobaan karena alatnya belum ada.

Metode eksperimen mempunyai kelebihan. Kelebihan metode eksperimen diantaranya :
a.       Membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya
b.      Dalam membina siswa untuk membuat terobosan-terobosan baru dengan penemuan dari hasil percobaannya dan bermanfaat bagi kehidupan manusia
c.       Hasil-hasil percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran umat manusia
Pemakaian metode eksperimen dalam kegiatan belajar mengajar memiliki tujuan
a.       Mengajar bagaimana menarik kesimpulan dari berbagai fakta, informasi, atau data yang berhasil dikumpulkan melalui pengamatan terhadap proses eksperimen
b.      Mengajar bagaimana menarik kesimpulan dari fakta yang terdapat pada hasil eksperimen, melalui eksperimen yang sama
c.       Melatih siswa merancang, mempersiapkan, melaksanakan dan melaporkan percobaan
d.      Melatih siswa menggunakan logika induktif untuk menarik kesimpulan dari fakta, informasi, atau data yang terkumpul melalui percobaan

Prosedur eksperimen menurut Roestiyah (2001 : 81) adalah :
a.       Perlu dijelaskan kepada siswa tentang tujuan eksperimen, mereka harus memahami masalah yang akan dibuktikan melalui eksperimen
b.      Memberi penjelasan kepada siswa tentang alat-alat serta bahan-bahan yang dipergunakan dalam eksperimen, hal-hal yang harus dikontrol dengan ketat, urutan eksperimen, hal-hal yang perlu dicatat
c.       Selama eksperimen berlangsung guru harus mengawasi pekerjaan siswa. Bila perlu memberi saran atau pertanyaan yang menunjang kesempurnaan jalannya eksperimen
d.      Setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan hasil penelitian siswa, mendiskusikan di kelas, dan mengevaluasi dengan tes atau tanya jawab

bAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Metode Penelitian
Menurut Surya Sumantri (1988 : 328) “Metode penelitian adalah cara untuk memecahkan suatu permasalahan secara ilmiah, sistematis, logis dan faktual”. Penggunaan suatu metode dalam suatu penelitian ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian oleh karena itu suatu penelitian pada hakekatnya memiliki metode penelitian masing-masing. Sesuai dengan tujuannya yakni untuk memperbaiki proses dan hasil pembelajaran maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
PTK dapat didefinisikan sebagai suatu penelitian tindakan (action research) yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti di kelasnya atau bersama-sama dengan orang lain (kolaborasi) dengan jalan merancang, melaksanakan dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu (kualitas) proses pembelajaran di kelasnya melalui suatu tindakan (treatment) tertentu dalam siklus.
PTK adalah suatu penelitian berbasis kelas. PTK dapat dilakukan mandiri atau secara kolaboratif, baik dengan teman sejawat, kepala sekolah, dosen dan pihak lain yang relevan dengan PTK.


27

Pelaksanaan metode ini meliputi 4 tahap (fase) yaitu :
1.      Perencanaan (Planning)
2.      Pelaksanaan (Action)
3.      Observasi (Observation)
4.      Refleksi (Reflection)

Model PTK yang dipilih dalam penelitian ini adalah model PTK dari Kemmis dan Mc.Taggart dengan pertimbangan model penelitian ini adalah model yang sederhana dan mudah dipahami.
Satu kali pembelajaran sama dengan kemampuan guru sebagai peneliti pemula. Selain itu PTK yang dilaksanakan hanya untuk satu pokok bahasan atau satu materi pokok.
Menurut Kemmis dan Mc Taggart (Kunandar 2008: 42) mengemukakan bahwa :
Penelitian tindakan adalah suatu bentuk self-inquiri kolektif yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi sosial untuk meningkatkan rasionalitas dan keadilan dari praktik sosial atau pendidikan yang mereka lakukan, serta mempertinggi mereka terhadap praktik dan situasi dimana praktik itu dilaksanakan.

Sedangkan bentuk PTK yang dilaksanakan adalah PTK kolaboratif yang melibatkan beberapa pihak dengan jalinan bersifat kemitraan baik guru, kepala sekolah maupun dosen secara serempak melakukan penelitian dengan tujuan untuk meningkatkan praktek pembelajaran dan meningkatkan kemampuan guru dalam proses pembelajaran.


Beriklitian
Subjek penelitian ini adalah siswa dan guru kelas IV dalam pembelajaran IPA dengan menggunakan metode eksperimen di kelas IV SDN Situgede pada topik energi panas. Jumlah subjek sebanyak 20 orang, yang terdiri dari 11 orang laki-laki dan 9 orang perempuan peneliti dibantu oleh observer terutama dalam melakukan observasi dan refleksi.

C.    Definisi Operasional Variabel Penelitian
Rumusan atau penjelasan definisi operasional variabel-variabel penelitian adalah sebagai berikut :
1.      Metode eksperimen yang dimaksud adalah metode atau cara dimana guru dan murid bersama-sama mengerjakan sesuatu latihan atau percobaan untuk mengetahui pengaruh atau akibat dari sesuatu.
2.      Lembar Kerja Siswa (LKS). LKS adalah pernagkat lembaran format yang berisi informasi dan tugas-tugas sistematis yang difungsikan untuk memfasilitasi dan membimbing siswa belajar mandiri secara individu atau kelompok sehingga siswa dapat mengungkapkan kompetensi awalnya dalam menemukan pemahaman baru atau memecahkan masalah.
3.      Kemampuan siswa pada penelitian ini dibatasi pada penguasaan konsep siswa tentang energi panas. Kemampuan siswa diukur pada setelah berakhir upaya tindakan perbaikan. LKS diukur dengan tes. Data yang diperoleh dengan instrumen ini dijadikan bahan untuk memperbaiki kinerja guru pada pembelajaran selanjutnya.
D.    Prosedur Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam bentuk proses berdaur (siklus). Setiap siklus terdiri dari empat tahap (fase) : perencanaan (planning), pelaksanaan (action) observasi (observation), refleksi (reflection).
Prosedur penelitian tindakan kelas dapat dijabarkan dalam kegiatan berikut ini :
1.      Tahap Refleksi Awal
Pada tahap ini guru kelas sebagai peneliti, pengalamannya selama mengelola pembelajaran IPA di kelas IV SD Situgede kemudian mengidentifikasi dan menemukan adanya masalah dalam pembelajaran IPA di kelas tersebut. Hal itu dilakukan dengan melakukan diskusi dengan kepala sekolah serta rekan-rekan guru permasalahan itu antara lain bahwa pada pembelajaran IPA selama ini hanya menekankan pada penguasaan konsep-konsep saja, tidak diajarkan bagaimana prosesnya. Untuk dapat mengetahui proses pembelajaran satu-satunya metode yang tepat adalah menggunakan metode eksperimen, metode ini dapat melibatkan siswa dalam proses pembelajarannya dengan melakukan suatu percobaan, jadi siswa aktif dalam belajar.
Dengan demikian penggunaan metode eksperimen menjadi metode alternatif untuk menjadikan pembelajaran IPA di kelas IV SDN Situgede bermakna bagi siswa. Bersama rekan guru dicapai kesepakatan perlunya melakukan penelitian agar metode eksperimen dapat digunakan lebih baik dalam meningkatkan kemampuan siswa melaporkan hasil pengamatan pada pembelajaran IPA di SDN Situgede.
a.       Mengidentifikasi masalah
Tahap ini dilakukan setelah guru merasakan adanya masalah pada pembelajaran IPA selama ini. Identifikasi masalah terutama dilakukan terhadap permasalahan-permasalahan yang terkait dengan aktivitas siswa dan guru dalam pembelajaran IPA di kelas IV SDN Situgede. Lebih khusus lagi identifikasi dilakukan terhadap perlunya meningkatkan kemampuan siswa dalam melaporkan hasil pengamatan selama mengikuti pembelajaran IPA dengan menggunakan metode eksperimen
b.      Merumuskan masalah dan langkah-langkah tindakan pemecahan masalah
Pada tahap ini dirumuskan upaya penyelesaian atau penanganan terhadap masalah utama yang teridentifikasi, rumusan lebih difokuskan kepada memilih teknik-teknik penggunaan metode eksperimen yang dapat meningkatkan kemampuan siswa melaporkan hasil atau pengamatan pada pembelajaran IPA di kelas IV. Dengan metode eksperimen akan meningkatkan siswa dalam mengobservasi, mencatat data dan melaporkan hasil pengamatan. Dengan demikian rumusan masalah penelitian tindakan ini adalah bagaimanakah menggunakan metode eksperimen untuk meningkatkan kemampuan siswa melaporkan hasil pengamatan pada pembelajaran IPA ?
Pemecahan masalah ini dilaksanakan dengan tahapan :
1)      Melakukan orientasi dan persiapan penelitian
2)      Menentukan topik dan waktu pembelajaran
3)      Menyusun rencana atau silabus pembelajaran
4)      Membuat lembar kerja siswa
5)      Menyiapkan alat peraga
6)      Membuat instrumen observasi kinerja guru dan aktivitas siswa
7)      Membuat alat evaluasi
8)      Melaksanakan tindakan pembelajaran

2.      Tahap pelaksanaan penelitian tindakan kelas
Tahap pelaksanaan penelitian tindakan yang dimaksud adalah kegiatan utama peneliti (guru kelas IV) bersama peneliti mitra dilapangan mulai kegiatan orientasi, pra tindakan, pelaksanaan tindakan pembelajaran hingga tercapainya target pemecahan masalah. Tahapan-tahapan tersebut diuraikan sebagai berikut.
a.       Kegiatan orientasi
Kegiatan orientasi peneliti guru kelas IV bersama peneliti mitra dilakukan dengan cara mempelajari konsep-konsep penting pelaksanaan PTK studi tersebut berupa hal-hal sebagai berikut :
1)      Menyamakan persepsi antara peneliti (guru kelas IV) dan peneliti mitra (guru kelas IV) tentang penelitian tindakan kelas
2)      Menyamakan kesepakatan dengan peneliti mitra (observer) tentang topik pembelajaran IPA dengan menggunakan LKS dan metode eksperimen topik yang dipilih yaitu energi panas
3)      Menentukan siklus dan tema pembelajaran beserta instrumen dan administrasi persiapan mengajar yang akan digunakan. Satu siklus tindakan ditetapkan dengan satu pertemuan pembelajaran penelitian tindakan kelas yang dilakukan adalah 3 siklus tindakan pembelajaran
b.      Persiapan pra tindakan
Sebelum tindakan pembelajaran dilaksanakan persiapan awal yang dilakukan peneliti yaitu memantapkan pemahaman tentang PTK, mematangkan pembuatan RPP, LKS, Instrumen observasi.
c.       Pelaksanaan tindakan dan observasi pembelajaran
Tindakan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan siswa melaporkan hasil pengamtannya melalui penggunaan LKS dan metode eksperimen terdiri dari 3 siklus untuk seluruh siklus disiapkan satu RPP yang terdiri dari 2x pertemuan. Jadi setiap siklus diisi dengan satu kali pembelajaran. Pola siklus tersebut sebagai berikut :
1)      Melaksanakan dan mengobservasi tindakan pembelajaran 1 (siklus 1) untuk sub topik “Sumber energi karena pengaruh gesekan benda”
2)      Melaksanakan dan mengobservasi tindakan pembelajaran 2 (siklus 2) untuk sub topik “Perpindahan panas secara radiasi”.
3)      Melaksanakan dan mengobservasi tindakan pembelajaran 3 untuk sub topik “Perpindahan panas secara konduksi”.
3.      Tahap refleksi
Refleksi adalah mengingat dan merenungkan suatu tindakan persis seperti yang telah diatat dalam lembar observasi. Refleksi berusaha memahami proses, masalah, persoalan, dan kendala yang nyata dalam tindakan strategis. Refleksi segera dilakukan setelah pembelajaran selesai dilaksanakan
Refleksi dilakukan oleh peneliti (guru kelas IV) dibantu oleh observer (guru kelas IV), melalui diskusi, refleksi, memberikan dasar perbaikan rencana. Caranya data hasil observasi pada setiap pembelajaran segera dirapihkan kalau perlu disederhanakan dalam bentuk tabel. Data yang telah disajikan selanjutnya didiskusikan, dikaji ulang dan dianalisis secara bersama-sama terutama yang berkaitan dengan kelebihan dan kekurangan yang terjadi dalam tindakan pembelajaran hasil kegiatan refleksi ini digunakan untuk bahan pertimbangan dalam menyusun rencana berikutnya yang kemudian di observasi dan direfleksi kembali seperti pada pembelajaran sebelumnya.
Pola kegiatan refleksi dan tindak lanjutnya untuk setiap pembelajaran adalah sebagai berikut.
a.       Guru (peneliti) dan observer menganalisis dan merefleksi pelaksanaan dan hasil tindakan pembelajaran siklus 1. maka diperoleh data keberhasilan dan kekurangan dari pembelajaran 1 tersebut menyangkut cara penggunaan LKS dan metode eksperimen.
b.      Berdasarkan hasil analisis dan refleksi terhadap tindakan pembelajaran siklus 1, guru merancang rencana dan melaksanakan pembelajaran siklus II. Tujuannya untuk memperbaiki kinerja guru menggunakan LKS dan metode eksperimen
c.       Guru (peneliti) dan observer menganalisis dan merefleksi pelaksanaan dan hasil tindakan pembelajaran siklus II, maka diperoleh data keberhasilan dan kekurangan dari pembelajaran 2 tersebut menyangkut cara penggunaan LKS dan metode eksperimen.
d.      Berdasarkan hasil analisis dan refleksi terhadap tindakan pembelajaran 2, guru merancang rencana dan melaksanakan tindakan pembelajaran siklus III. Tujuannya untuk memperbaiki kekurangan kinerja guru pada siklus II, menggunakan LKS dan metode eksperimen.
e.       Guru dan observer menganalisis dan merefleksi pelaksanaan dan hasil pembelajaran siklus III. Maka diperoleh data keberhasilan dan kekurangan dari pembelajaran siklus III tersebut menyangkut penggunaan LKS dan metode eksperimen
f.       Berdasarkan hasil analisis dan refleksi terhadap tindakan pembelajaran 3, guru bersama observasi melakukan pembahasan tentang kualitas pembelajaran telah dicapai oleh kinerja guru menggunakan metode eksperimen dan LKS
g.      Setelah 3 kali pembelajaran (3 kali tindakan perbaikan) peneliti (guru kelas IV) berdiskusi dengan observer (guru kelas VI) untuk memutuskan  penelitian dianggap cukup.

E.     Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Teknik Observasi
Pada pelaksanaan observasi dikelas dilakukan oleh penelti utama (guru kelas IV) dibantu oleh peneliti Mitra (guru kelas VI) yang bertugas melakukan pengelolaan kelas dan pengamatan terhadap siswa. Adapun alat yang digunakan untuk menunjang data adalah lembar observasi kinerja guru, lembar observasi kinerja siswa serta catatan lapangan instrumen tersebut digunakan sebagai bahan analisis refleksi pada setiap tahapan pembelajaran untuk bahan perbaikan pembelajaran berikutnya. Dalam kegiatan observasi kegiatannya adalah merekam dan mencatat semua peristiwa yang terjadi dalam observasi. Hasil observasi selalu dilaporkan dan didiskusikan agar diketahui tercapai tidaknya pembelajaran tersebut.


2.      Teknik Tes atau Penilaian
Tes berguna untuk menjaring data tentang hasil belajar penguasaan konsep siswa.
3.      Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif digunakan untuk menjelaskan seluruh rangkaian penelitian mulai dari perencanaan, pelaksanaan, refleksi, hasil penelitian hingga saran tindak lanjut

F.     Teknik Pengolahan Data
Teknik pengolahan data dalam penelitian ini adalah
1.      Coding atau Labeling, adalah mekanisme pengolahan data yang berkaitan dengan pengumpulan data yang berkaitan dengan pengumpulan data melalui observasi, tes dan wawancara, penanaman data, pengklasifikasian data dan deskripsi makna data baik berdasarkan jenis subjek penelitian (siswa dan guru), fokus tindakan waktu dan proses tindakan (tahapan pembelajaran maupun hasil tindakan).
2.      Tringulasi, merupakan teknik validasi data yang berarti bahwa kesasihan (validitas data ditentukan oleh sumber data dan interpretasi data yang berasal dari berbagai pihak terkait, terutama yang mempresentasikan keterwakilan. Peneliti, guru syawat (peneliti mitra), serta pakar akademik yang relevan dengan masalah yang dianalisis.
3.      Saturasi (kejenuhan)karena keterbatasan waktu penelitian dan kemampuan peneliti, saturasi juga dijadikan salah satu teknik validasi data. Dengan teknik ini peneliti juga memastikan bahwa tindakan dan hasil perbaikan ditetapkan telah memadai dengan pertimbangan bahwa potensi perubahan, baik yang terdapat pada subjek peneliti (guru/siswa), fasilitas, waktu dan faktor-faktor penentu perubahan lainnya sudah sampai pada batas kemampuan maksimal saat itu. Rencana yang telah dibuat, dilaksanakan dalam bentuk tindakan ini diikuti dengan observasi terhadap semua aspek yang telah ditetapkan dan disepakati sebelumnya.

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1876933177057504259#editor/target=post;postID=5371994158039169114
close

DMC