contoh makalah Pengertian Intelegensi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Orang tua adalah orang terbaik dalam membantu anak-anak mereka mewujudkan potensinya. Dan usia prasekolah adalah saat yang tepat bagi mereka untuk tumbuh dan mencapai puncak kemampuan mereka. Orang tua ingin setiap anaknya hebat disegala bidang kehidupan. Anak-anak yang hebat, cerdas dan beruntung adalah anak yang dilahirkan oleh orang-orang tua yang penuh kasih sayang, perhatian dan pengertian serta memiliki kesempatan terbaik untuk mengembangkan fikiran mereka dengan penuh kegembiraan dan keberhasilan.
Cara paling efektif bagi orang tua untuk membantu anak-anak tumbuh menjadi matang dan kuat adalah melalui pembinaan hubungan kasih sayang, saling menerima dan mendukung mereka sejak mereka dilahirkan karena pada dasarnya semua anak mempunyai bakat dan kecerdasan hal ini sejalan dengan pendapat Buckminster Fuller (2006:156) yaitu “Semua anak lahir sebagai jenius kita melewatkannya enam tahun pertama dari kehidupan mereka dengan menumpulkan kejeniusan mereka”.
Sejak bayi orang tua harus membantu anak belajar. Hal ini akan sangat membantu menumbuhkan rasa keyakinan anak untuk belajar sepanjang hidup. Dan bantuan orang tua ini akan membantu anak menemukan kelebihan-kelebihan dari anak serta hal-hal yang menarik perhatian anak seperti yang diungkapkan oleh Platon yaitu “Menghindari pemaksaan dan memberikan pendidikan awal menjadi sebuah hal yang sangat baik. Anak-anak kecil belajar melalui permainan, pendidikan yang dipaksakan tidak dapat membekas dalam jiwa”(2006:155).
Hubungan yang ditampilkan orang tua sebaiknya adalah hubungan yang hangat bukan hubungan yang mencekik dan melemaskan, karena hubungan yang hangat akan menumbuhkan kecerdasan dan semangat.
Landasan psikologis untuk belajar harus dimulai sejak bayi dilahirkan dan harus mantap saat anak mencapai usia 3 tahun. Meskipun pada bayi keterampilan fisik akan datang dengan sendirinya tanpa bantuan, seperti kemampuan meraih dan menggapai benda-benda. Namun orang tua dapat mendorong mereka menikmati berbagai hal-hal baru karena untuk seorang bayi yang sangat kecilpun keragaman merupakan bumbu kehidupan.
“Belajar yang sesungguhnya adalah suatu proses penemuan dan jika ingin hal itu terjadi kita harus membuat berbagai kondisi yang memungkinkan penemuan itu terjadi. Kita mengetahui apa semua itu. Semua itu meliputi waktu, waktu luang, kebebasan dan ketiadaan tekanan” (John Holt).

Dalam mengerjakan sesuatu yang tepat bersamaan dengan anak akan membantu meningkatkan rasa percaya diri anak, yang membuat anak lebih mudah menempuh pendidikannya, daripada anak yang belajar tanpa bantuan orang tua.
Jika orang tua dapat meningkatkan kemampuan dan bakat melalui peningkatan rasa percaya diri maka anak akan lebih mudah memanfaatkan seluruh bakat yang dimilikinya. Pembinaan perkembangan intelektual anak dimulai dari rumah, kemudian proses ini akan dilanjutkan oleh guru di sekolah.
Dalam membantu anak yang cerdas di rumah maupun disekolah adalah dengan cara selalu mendorong dan merangsang anak karena hal ini membuat anak akan merasa dipentingkan dan dihargai.
Anak yang berbakat dan kreatif tidak bisa diukur oleh prestasinya di sekolah saja, tetapi segala aktivitasnya yang timbul dari anak yang selalu menginginkan hal baru juga, adalah sebagian dari anak yang kreatif.
Namun kebanyakan orang tua dan guru mengira bahwa satu-satunya faktor kesuksesan adalah peringkat di sekolah. Akibatnya mereka mencurahkan banyak energi dan sumber daya untuk mencapai keunggulan akademis. Hal tersebut memberikan tekanan luar biasa kepada anak-anak untuk memperoleh nilai yang baik di sekolah sehingga tanpa disadari anak-anak kehilangan kesenangan untuk belajar dan barangkali kebahagiaan masa kanak-kanak. Karena peringkat di sekolah bukan satu-satunya indikator yang membuat anak-anak sukses tapi kemampuan berfikir yang baik terutama pemikir kreatif merupakan aset yang paling berharga bagi kesuksesan.
Kemampuan anak dianggap paling berharga bagi orang bergantung pada sudut pandang dan cara hidup mereka. Seperti pada anak gua dilihat dari menjadi pemburu hebat, dengan kepekaan yang tajam dalam menemukan binatang buruannya, sedangkan pada awal abad ini anak-anak disebut berbakat yaitu dilihat dari mampunya menghafal berlembar-lembar naskah buku diluar kepala atau menulis berderet-deret dengan lurus dan panjang, pekerja keras, menaati peraturan dan berada di peringkat tertinggi adalah tanda-tanda dari keberhasilan dan kesuksesan anak.
Tapi tentunya kebanyakan orang tua menginginkan anak-anaknya menjalani kehidupan yang bahagia dan normal. Dan orang tua adalah narasumber terbaik bagi seorang anak yang berbakat dan kreatif karena orang yang paling peka terhadap kebutuhan anak dan orang yang paling peduli dengan masa depan mereka.

1.2  Rumusan Masalah
Setelah melihat latar belakang diatas maka penulis merumuskan beberapa masalah yang akan dibahas yaitu :
1.            Bagaimanakan mengenali anak yang berbakat dan kreatif?
2.            Bagaimanakah cara mengasuh anak-anak berbakat ?
3.            Bagaimanakah mengembangkan bakat dan kreativitas anak sejak dini?
 1.3  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dibuatnya penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.            Agar orang tua dan para pendidik dapat mempunyai pengetahuan tentang memahami dan mengenali bakat anak.
2.            Agar orang tua dan pendidik mempunyai keterampilan mengasuh anak yang berbakat.
3.            Agar orang tua dan pendidik dapat mengembangkan bakat dan kreativitas pada anak.
4.            Agar orang tua dan pendidik dapat meningkatkan keterampilan dalam mendidik anak.
 1.4        Manfaat Penulisan
Dibawah ini beberapa manfaat yang dapat disampaikan penulis yaitu :
1.      Manfaat bagi penulis
·         Sebagai pembanding dalam membuat karya tulis di waktu yang akan datang.
·         Sebagai motivator dalam menulis karya tulis yang berkualitas.
2.      Manfaat bagi guru/pendidik
·         Sebagai salah satu pedoman dalam menghadapi anak di sekolah.
·         Sebagai salah satu sumber dalam mencari indikator untuk anak yang berbakat.
3.      Manfaat bagi orang tua
·         Sebagai salah satu pedoman dalam mengasuh anak.
·         Sebagai pedoman orang tua sehingga orang tua meluruskan fikiran terhadap anak.
·         Sebagai motivator agar orang tua lebih kreatif dalam mendidik anak.
1.5  Pembahasan
1.5.1        Kajian Teoritis
A. Pengertian Intelegensi
Intelegensi bukanlah suatu yang bersifat kebendaan melainkan suatu fiksi ilmiah untuk mendeskripsikan perilaku individu yang berkaitan dengan kemampuan intelektual. Dalam mengartikan inteligensi (kecerdasan) ini, para ahli mempunyai pengertian yang beragam. Diantara pengertian intelegensi itu adalah sebagai berikut :
a.                   C.P. Chaplin (1975) mengartikan intelegensi itu sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif.
b.                  Anita E. Woolfolk (1995) mengemukakan bahwa menurut teori-teori lama, intelegensi itu meliputi tiga pengertian, yaitu (1) kemampuan untuk belajar; (2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh; dan (3) kemampuan untuk beradaptasi secara berhasil dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya. Selanjutnya, Woolfolk mengemukakan intelegensi itu merupakan satu atau beberapa kemampuan untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan dalam rangka memecahkan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan.
c.                   Binet (Sumadi S., 1984) menyatakan bahwa sifat hakikat intelegensi itu ada tiga macam, yaitu (a) kecerdasan unutk menetapkan dan dan mempertahankan (memperjuangkan) tujuan tertentu. Semakin cerdas seseorang, akan semakin cakaplah dia membuat tujuan sendiri, mempunyai inisiatif sendiri tidak menunggu perintah saja; (b) kemampuan untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan tersebut; (c) kemampuan untuk melakukan otokritik, kemampuan untuk belajar dari kesalahan yang telah dibuatnya.
d.                  Raymon Cattel dkk. (kimle dkk., 1980) mengklasifikaikan intelegensi ke dalam dua kategori, yaitu (a) “Fluid Intelegence”, yaitu tipe kemampuan analisis kognitif yang relatif tidak dipengaruhi oleh pengalaman belajar sebelumnya; (b) “Crystallized Inteligensi”, yaitu keterampilan-keterampilan atau kemampuan nalar (berfikir) yang dipengaruhi oleh pengalaman belajar sebelumnya.
B. Teori-Teori Intelegensi
a.                   Teori “Two Factor
Teori ini dikemukakan oleh Charles Spearman (1904). Dia berpendapat bahwa intelegensi itu meliputi kemampuan umum yang diberi kode “g” (general factors), dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factors). Setiap individu memiliki kedua kemampuan ini yang keduanya menentukan penampilan atau prilaku mentalnya.
b.                  Teori “Primary Mental Abilities
Teori ini dikemukakan oleh Thurstone (1938). Dia berpendapat bahwa intelegensi merupakan penjelamaan dari kemampuan primer , yaitu (a) kemampuan berbahasa : verbal comprehension; (b) kemampuan mengingat; memory; (c) kemampuan nalar atau berfikir logis; reasoning; (d) kemampuan tilikan ruang; spatial factor; (e) kemampuan bilangan; numerical ability; (f) kemampuan menggunakan kata-kata: word fluency; dan (g) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat: perceptual speed.
c.                   Teori “Multiple Intelligence”
Teori ini dikemukakan oleh J.P. Guilford dan Howard Gardner. Guilford berpendapat bahwa inteligensi itu dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “Faces Of  Intellect”, yaitu sebagai berikut :
1)      Operasi Mental (Proses Berfikir)
a)Kognisi (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru).
b)      Memory retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari).
c)      Memory recording (ingatan yang segera).
d)     Divergen production (berfikir melebar = banyak kemungkinan jawaban)
e)      Convergent production (berfikir memusat = hanya satu jawaban/alternatif)
f)       Evaluasi (mengambil keputusan tenatang apakah sesuatu itu baik, akurat, atau memadai).
2)      Content (Isi yang difikirkan)
a)      Visual (bentuk kongkret atau gambaran).
b)      Auditory.
c)      Word  meaning (semantic)
d)     Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata, angka dan not musik).
e)      Behavioral (interaksi non-verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka dan suara).
3)      Product (Hasil berfikir)
a)      Unit (item tunggal informasi).
b)      Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama).
c)      Relasi (keterkaitan antar informasi).
d)     Sistem (kompleksitas bagian yang saling berhubungan).
e)      Transformasi (perubahan, modifikasi atau redefinisi informasi).
f)       Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain).
Keterkaitan dengan ketiga kategori tersebut diats selanjutnya dapat disimak dalam contoh berikut :
1)      Untuk dapat mengisi deretan angka 3, 6, 12, 24, ... memerlukan “convergent opertion” (hanya satu jawaban yang benar) dengan “symbolic content” ( angka) untuk memperoleh suatu ‘relationship product” (angka rangkap berdasarkan pola hitungan sebelumnya).
2)      Untuk membuat lukisan abstrak tentang suatu fenomena kehidupan, memerlukan kemampuan “divergent thinking operation” (banyak kemungkinan jawaban) tentang “visual content” untuk menciptakan “transformasional product” (objek nyata yang ditransformasikan ke dalam pandangan pelukis).
Menurut Guilford, keterkaitan antara ketiga kategori berfikir atau kemampuan intelektual tersebut, telah melahirkan 180 kemampuan kombinasi kemampuan. Model struktur intelektual Guilford ini telah mengembangkan wawasan tentang hakikat intelegensi dengan menambah faktor-faktor seperti: “social judgment” (evaluasi terhadap orang lain), dan kreativitas (berpikir “divergent’).
1.5.2        Cara Menemukan Dan Mengenali Bakat Anak
Setiap anak pasti mempunyai bakat dan keistimewaan masing-masing. Namun seperti yang telah dikaji dalam kajian teoritis bakat/kecerdasan tidak bisa terlihat karena bersifat fiksi ilmiah tapi kecerdasan ini dapat dilihat dari prilaku individu. Oleh karena itu orang tua harus dapat mengenali dan memahami masing-masing bakat/keistimewaan yang dimiliki oleh anak. Dengan memahami bakat serta keistimewaan pada anak maka orang tua akan lebih mudah mengarahkan dan mengembangkannya
Dalam menentukan apakah seorang anak cerdas dan berbakat dalam suatu bidang dan bagaimanakah, serta kapan memerlukan perhatian yang tepat adalah menuntut untuk observasi yang cermat.
Dalam pengamatan atau observasi sebuah catatan sangat penting adanya. Dengan catatan ini suatu ketepatan akan ditemukan dalam memberikan perhatian yana benar untuk anak. Walaupun sebenarnya dalam membuat catatan harian ini akan menambah pekerjaan untuk orang tua. Sama halnya dengan orang tua di dalam pendidikan taman kanak-kanak observasi sangat penting dilakukan dan biasanya secara administratif telah tersedia catatan-catatan penting tentang prilaku dan prestasi anak. Di sekolah catatan-catatn penting ini diarsipkan untuk kebutuhan-kebutuhan penanggulangan anak.
Catatan harian bagi orang tua dan catatan anekdot bagi seorang guru penting sekali, karena dengan catatan ini kita dapat melihat lebih objektif dan jelas mengenai apa yang terjadi di lingkungan keluarga maupun sekolah. Dan dengan membaca catatan tersebut kembali kita akan melihat bagaimana perkembangan suatu situasi dan bagaimanakah keadaan tersebut dapat diubah. Sebuah catatan harian dapat membantu menemukan dan menilai apakah anak cerdas? Misalnya : “Apakah secara intelektual ia selalu maju dari usianya?”. Tidak hanya itu saja catatan  tersebut dapat membantu kita mengawasi perkembangan emosi anak.
Tiga hal yang harus diingat oleh pembuat catatan harian dalam mencatat perkembangan anak yaitu :
·         Perkembangan
·         Perasaan
·         Rencana
Dalam membuat catatan harian tidak harus menulis kejadian yang tepat namun cukup menulis segala sesuatu yang terjadi saja. Dengan begitu kita bisa berfikir melalui peristiwa yang terjadi.
Dari catatan-catatan itu kita dapat melihat dan mengenali beberapa kemungkinan anak cerdas dan berbakat di suatu bidang.
Adapun tanda-tandanya dapat kita lihat dari :
v  Mempunyai pikiran yang lincah
Tanda yang paling jelas dari anak yang cerdas berbakat adalah kelincahan fikirannya. hal ini dapat dijumpai dengan kesenangan seorang anak dengan kata-kata.
Anak cerdaspun bisa memiliki ingatan yang efektif dan menonjol daripada anak-anak seusianya. Misalnya anak yang berumur 4 tahun dapat mengingat acara pikniknya pada tahun lalu.
Anak cerdas lahir dengan semangat  senang bersaing yang besar artinya mereka selalu berusaha melakukan sesuatu lebih baik. Dalam persaingan ini adalah persaingan dengan dirinya maupun dengan orang lain. Hal ini berarti apa yang dapat dilakukan oleh anak untuk dapat melakukan yang lebih baik. Apakah berusaha untuk berhasil berulang-ulang dan menunjukkan ketekunannya sampai meraih keberhasilannya.
v  Anak cerdas dapat mengumpulkan informasi dengan sangat cepat. Anak mampu menangkap maksud pembicaraan kita meskipun pembicaraannya belum selesai.
v  Anak yang cerdas sudah pandai membawa diri. Anak bisa mendapatkan perhatian dan mempertahankan apa yang dikehendakinya. Misalnya anak usia satu tahun bisa belajar bahwa ia lebih mudah mendapatkan apa yang diinginkannya dengan tersenyum daripada menjerit-jerit.
v  Anak cerdas memiliki keinginan besar untuk belajar dan bila diberi kesempatan mereka akan langsung mengambilnya.
v  Anak yang cerdas mempunyai keyakinan akan apa yang dilakukannya dan mereka merasa nyaman dengan dirinya sendiri dan bangga akan keberhasilannya.
Hal diatas juga sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Reni Akbar (2001:148) yaitu beberapa tanda anak yang berbakat adalah :
Ø  Ketajaman perhatian yang tidak biasa.
Ø  Sedikit membutuhkan tidur.
Ø  Jangka perhatian panjang.
Ø  Tingkat aktivitas yang tinggi.
Ø  Tersenyum atau mengenali pengasuhnya sejak awal.
Ø  Reaksi yang dalam terhadap kegaduhan, rasa sakit, dan rasa kecewa.
Ø  Adanya kemajuan yang luar biasa.
Ø  Senang dan cepat belajar.
Ø  Perkembangan bahasa yang cepat dan luas.
Ø  Tertarik dengan buku-buku.
Ø  Rasa ingin tahu.
Ø  Memiliki humor yang sangat baik.
Ø  Daya nalar dan kemampuan memecahkan masalah
Ø  Imajinasi yang hidup, dan
Ø  Peka dan mudah terharu.
Indikator-indikator diatas tentunya bisa kita temukan dengan dengan adanya observasi yang tepat, objektif dan teliti. Orang tua yang mempunyai anak yang bercirikan diatas maka bersyukurlah karena anak tersebut termasuk ke dalam anak yang berbakat. Namun untuk lebih memperkuat penelitian dan pengamatan kita di rumah maka orang tua dapat segera membawa anak ke psikolog agar anak dapat mengikuti pengetesan untuk keberbakatannya.
Anak berbakat tidak harus ber-IQ tinggi, tetapi anak yang memiliki kretifitas dan motivasi yang kuat.Anak berbakat adalah anak yang memiliki kemampuan untuk menampilkan prestasi yang tinggi biasanya didalam satu bidang khusus, seperti bidang akademik, kemampuan intelektual, kemampuan di bidang seni, kemampuan dalam kepemimpinan maupun dalam psikomotor (olahraga).
Sekarang pertanyaannya adalah bagaimanakah mengasuh anak yang berbakat dan kreatif?

1.5.3        Cara Mengasuh Anak Yang Berbakat Dan Kreatif
Anak belajar lewat meniru orang dewasa, mereka senang belajar dengan bermain. Pengaruh orang disekitar anak sangat besar sekali hal ini dapat terlihat bahwa anak yang diasuh oleh seorang pengasuh, maka anak akan lebih dekat dengan pengasuhnya dibandingkan dengan orang tuanya. Oleh karena itu pengasuhan anak harus sangat diperhatikan.
Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam mengasuh anak yang berbakat dan kreatif yaitu :


Ø  Penegasan
Sangat penting menanamkan pemikiran yang positif dan perasaan percaya diri pada anak. Menurut Dr. Yew Kam Keong, Ph.D. tentang waktu yang paling tepat dalam melakukan hal tersebut adalah sebelum mereka tidur pada malam hari dan pada saat mereka bangun pada pagi hari.
Hal tersebut pada anak akan menjadi lebih mudah menerima pesan positif dari kita karena ketika anak tidur atau mengantuk, otak berada dalam mode gelombang otak theta. Dalam keadaan ini otak kanan atau otak kreatif menjadi lebih dominan.
Telinga kiri merupakan jalan yang lebih efektif menuju otak kanan. Oleh karena itu berbisiklah melalui telinga kiri. Contoh kegiatan ini adalah bila anak akan menghadapi ujian matematika, maka berbisiklah pesan ke telinga mereka pada malam hari saat mreka mengantuk atau menjelang mereka tidur seperti “Kamu menyukai matematika dan akan mengerjakan ujian dengan baik”.
Ø  Memilih Mainan Yang Baik
Mainan sangat penting dalam perkembangan mental bagi seorang anak. Mainan yang dimainkan oleh anak akan membuka kreativitas bagi anak. Hal ini sependapat dengan pendapat Dr. Stevanne Averbach (dikenal dengan Dr Toy) yaitu :
 “Orang-orang yang suka bermain jarang mengalami stres, memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar, lebih terbuka untuk mendapatkan pengalaman baru, lebih kreatif dan lebih berani mengambil resiko. Anak-anak yang memiliki play quotient yang tinggi akan berbagi antusiasme mereka untuk bermain dengan saudara-saudara, teman-teman dan keluarga”.

Dalam memilih permainan atau peralatan yang membuat anak kreatif harus memperhatikan ciri-ciri sebagai berikut :
·               Desainnya sederhana, tidak terlalu banyak detail karena hal ini dapat menghambat kebebasan anak dalam mengungkapkan diri. Contoh alat seperti ini yaitu karyon, balok-balok, tanah liat, lilin, pasir, dan kotak krayon yang kosong.
·               Serba guna artinya peralatan ini dapat digunakan oleh anak laki-laki maupun oleh anak perempuan.
·               Dapat merangsang kreativitas. Pilihlah alat yang dapat memotivasi anak untuk melakukan bermacam-macam kegiatan dan tidak memerlukan pengawasan dan penjelasan dari oarang dewasa.
·               Mempunyai ukuran yang besar dan mudah digunakan. Perkembangan motorik anak prasekolah akan menyulitkan anak dalam menggunakan peralatan yang kecil oleh karena itu pilihlah peralatan yang mempunyai ukuran cukup besar tetapi mudah digenggam dan tidak berat.
·               Tahan lama. Janganlah membeli peralatan yang mudah rusak dan pecah, maka pilihlah mainan yang tahan lama meskipun harganya lebih mahal.
·               Disediakan dalam jumlah yang sesuai. Dalam melakukan kegiatan kreatif anak akan memerlukan ruang yang leluasa untuk bergerak dan bekerja. Dan terlalu banyak peralatan akan mengurangi keefektipan material tersebut. Tapi diusahakan cukup banyak komponen yang disediakan yang dapat memungkinkan anak membuat anak belajar bekerja sama.
Ø  Bercerita.
Bercerita bisa dilakukan dengan media buku-buku cerita atau dengan menceritakan berbagai peristiwa yang terjadi, apa saja yang terjadi dilingkungan sekitar kita. bisa juga menceritakan tentang rutinitas, namun doronglah anak agar bertanya,  kemudian jelaskan apa yang dilakukan serta mengapa hal tersebut dilakukan.
Bercerita dengan menggunakan buku cerita dongeng akan membuat anak mempunyai imajinasi yang hidup. Lakukan bercerita dengan intonasi suara, volume suara, dan ekspresi wajah serta gerakan badan yang berubah-ubah.
Hal ini sangat baik dalam memelihara kreativitas anak “Fantasi adalah sebuah jembatan yang menghubungkan antara dunia nyata mereka dengan dunia imajinasi mereka” (Dr. Yeu Kam Keong, Ph.D, 2006:81)
Ø  Kunjungan Ke Pusat-Pusat Sains, Museum Dan Tempat-Tempat Pengetahuan Lainnya.
Dengan membawa anak-anak mengunjungi pusat-pusat ilmu pengetahuan, museum, pentas seni, galeri seni dan tempat lainnya, akan memberikan pengetahuan bagi anak. Pengalaman tersebut akan membantu anak dalam menemukan berbagai fakta melalui permainan. Karena pembelajaran dengan praktek langsung akan mempunyai pengaruh yang lama bagi anak.
Ø  Membuat Lingkungan Yang Kaya Akan Kreativitas
Menurut Mariam Diamond dalam bukunya Magic Trees of the Mind : How to Nurture yuor Child’s Intelligenence, Gravity, and Healthy Emotions from Birth Through Andolescence, menyebutkan ciri-ciri lingkungan yang kaya adalah :
·               Meliputi dukungan unsur emosional yang kuat.
·               Memberikan makanan bergizi dengan cukup protein, vitamin, mineral dan kalori.
·               Merangsang semua indera.
·               Memiliki suatu suasana yang bebas dari tekanan dan kekayaan yang tidak semestinya, yang melimpah oleh intensitas yang menyenangkan.
·               Memberikan serangkaian hubungan baru yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit bagi anak sesuai dengan tahapan perkembangannya.
·               Memperhitungkan interaksi sosial dengan persentase aktivitas yang berarti.
·               Meningkatkan perkembangan keterampilan dan perhatian yang luas seperti mental, estetika, sosial dan emosional.
·               Memberikan kepada anak suatu kesepakatan memilih beberapa aktifitas sendiri
·               Memberikan kepada anak suatu peluang untuk menilai hasil  usaha mereka dan mengubahnya.
·               Suatu suasana menyenangkan yang meningkatkan eksplorasi dan kesenangan belajar.
·               Terutama sekali lingkungan yang kaya yang lebih memungkinkan anak menjadi partisipasi aktif daripada pengamat pasif.

1.5.4        Mengembangkan Kreativitas Anak Sejak Dini
1.      Melatih Penginderaan.
Dalam mengembangkan penginderaan bisa dilakukan dengan pelatihan penginderaan . Contoh kegiatannya adalah :
·         Melatih penglihatan. Mengajak anak melihat pemandangan, menceritakan apa saja yang dilihat baik itu hewan, orang, benda, bentuk-bentuk, warna dan sebagainya.
·         Melatih pendengaran. Dengan memperdengarkan macam-macam bunyi-bunyian atau suara-suara situasi kehidupan sehari-hari atau benda-benda yang ada di sekitar lingkungan kita dan anak diminta untuk menemukan kembali dan mengenali kembali suara-suara itu.
·         Melatih penciuman. Hal ini kita lakukan dengan menyiapkan botol-botol kecil yang diisi dengan larutan macam-macam aroma. Misalnya aroma melati, mawar, cuka, apel, jeruk, dan sebagainya. Dengan menutup mata anak diminta mengenali macam-macam aroma tersebut.
·         Melatih pengecapan. Dengan meminta anak mengenali bermacam-macam bahan yang berwarna sama tetapi rasanya berbeda seperti warna putih pada garam, gula dan tepung.
·         Melatih perabaan. Dengan memperkenalkan barbagai macam bahan tekstur yang halus dan kasar seperti kain sutra, wol dan lain-lain.


2.      Melatih motorik halus dan kasar
Contoh kegiatan yang dapat melatih keterampilan motorik kasar dan halus adalah :
·         Kegiatan membuat lukisan di pasir. Dengan memberikan kertas yang berukuran besar yang diberi lem. Anak dapat menaburkan pasir diatas kertas tersebut dan membuat bermacam-macam bentuk dari pasir tersebut.
·         Membuat patung dari tanah liat. Anak diberi contoh terlebih dahulu bagaimana cara membuat patung dari tanah liat kemudian beri kebebasan kepada anak untuk membuat patung sesuai dengan imajinasi dan keinginan sendiri.
Dalam buku psikologi perkembangan yang disusun oleh Reni Akbar dengan mengutip salah seorang ahli yang bernama Amabile(1989) bahwa ada beberapa upaya yang dapat dilakukan orang tua dalam mengembangkan kreativitas anak yaitu :
1.      Kebebasan, artinya orang tua tidak berusaha mengendalikan anak dan tidak merasa cemas dengan apa yang dilakukan anak.
2.      Rasa hormat, artinya menghargai dan menghormati keberadaan mereka sebagai individu yang unik.
3.      Kedekatan emosional, artinya pendidikan yang dilakukan orang tua untuk anak tidak bersikap posesif yang menyebabkan anak tergantung pada orang lain.
4.      Nilai dan bukan peraturan, artinya anak-anak tidak diberi perturan-peraturan yang mengekang mereka.
5.      Prestasi dan bukan angka, artinya lebih mengedepankan meraih hal-hal yang baik dari anak bukan menekankan nilai pada rapor.
6.      Orang tua aktif, yaitu orang tua yang memfokuskan dlam mendidik anak dan tidak terpengaruh oleh tuntutan sosial.
7.      Menghargai kreativitas, yaitu mendukung anak melakukan hal-hal kreatif melalui penyediaan peralatan dan pengalaman baru bagi anak.
8.      Visi, yaitu orang tua harus mempunyai visi yang jelas untuk anaknya agar mereka mampu mengerjakan hal-hal yang luar biasa.
Selain hal diatas penekanan terhadap bermain untuk anak sangat penting sekali karena menurut penelitian bahwa anak yang banyak menghabiskan waktunya untuk bermain adalah anak yang kreatif .

1.5.5        Kesimpulan
Anak berbakat adalah anak yang mampu membuktikan kemampuan yang tinggi baik di dalam bidang intelektual, kreatif, artistik, kepemimpinan, maupun akademik khusus lainnya. Anak berbakat dapat kita temukan dengan melihat ciri-ciri dari anak tersebut seperti kemempuan motorik lebih awal, mempunyai imajinasi yang tinggi, mempunyai rasa ingin tahu yang besar, senang melakukan eksperimen dan masih banyak banyak lagi. Ciri-ciri anak berbakat ini bisa kita temukan dengan cara observasi/pengamatan pada anak-anak sehari-hari dengan menggunakan catatan-catatan harian. Atau bisa juga penemuannya dengan memeriksakan anak ke psikolog agar diberi berbagai tes psikologi, sehingga dengan tes ini dapat diketahui keistimewaan yang dimiliki anak.
Dalam mengasuh anak yang berbakat kuncinya adalah respek, yaitu terhadap keunikan yang dimilikinya, respek terhadap gagasan anak, dan respek terhadap mimpi-mimpinya.
Hal yang dapat dilakukan adalah dengan :
·         Memberikan penegasan yang positif.
·         Memberikan alat permainan yang baik.
·         Membuat lingkungan yang kaya akan kreativitas.
·         Dan dapat menyediakan kesenangan dalam belajar disekolah maupun di rumah.
Dalam mengembangkan bakat anak memang memerlukan ketelatenan dan kesabaran yang ekstra, karena semua itu adalah suatu proses. Mengembangkan bakat harus dilakukan melalui latihan-latihan yang disertai perhatian dan kasih sayang orang tua.

1.5.6        Saran
Saran yang dapat penulis sampikan :
1.Untuk guru/ pendidik
o   Guru dapat membuat permainan edukatif sendiri yang dapat merangsang perkembangan bakat anak.
o   Guru dapat memberikan kebebasan kepada siswa agar dapat memilih kesenangannya dalam belajar di sekolah.
2.Untuk orang tua
o   Orang perlu mendapat informasi tentang pentingnya bermain dan makna alat permainan.
o   Orang tua harus mengetahui cara memilih permainan yang tepat dan sesuai untuk anak.
o   Dapat menghadirkan suasana menyenangkan di rumah.





BAB II
PENUTUP
Daftar Pustaka

Bean Reynold, (1995), Cara mengembangkan kreatifitas anak: Binarupa Aksara.

Freman Joan. Munandar Utami, (2001), Cerdas dan cemerlang, Kiat menemukan dan mengembangkan bakat anak usia 0-5 tahun, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Keong Yeu Kam, (2004), 30 kiat mencetak anak kreatif mandiri, Bandung: Nuansa.

LN syamsu Yusuf. Dahlan M Djawad, (2006), Psikologi perkembangan anak & remaja, Bandung: Rosda.

Hawadu Reni Akbar, (2001), Psikologi perkembangan anak, mengenal sifat, bakat dan kemampuan anak: Grasindo.

Devi S, (2007), Jadilah pembimbing dan guru bagi putra-putri anda, panduan emosi, intelek dan keterampilan, Bandung: Nuansa.



https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1876933177057504259#editor/target=post;postID=5371994158039169114
close

DMC